Kepenulisan
MENULIS, MENGABDI UNTUK MENGABADI
Inilah Pesantren Luhur Baitul Hikmah, #PesantrenFilsafat dan #PesanrenLiterasi yang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmu akhirat, tapi juga ilmu-ilmu dunia, ilmu-ilmu rasional. Satu-satunya dari 28.000-an jumlah pesantren di Indonesia yang mewajibkan santri-santrinya belajar filsafat dan menekankan pentingnya menulis, disamping membaca, berdiskusi, debat ilmiah dan mempertukarkan gagasan-gagasan dalam iklim akademik yang terbuka dan berkeadaban. Ya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Betapa banyak ulama kawakan dan sarjana terkemuka dengan retorika memukau dan pidato yang menyihir publik di zamannya, tapi kini ditelan zaman dan diganti yang baru dan lebih viral. Namun dengan menulis dan berkarya secara ilmiah, manusia tidak hanya mengabdi, tapi juga mengabadi. Menulis kelihatannya sederhana dan mudah, tetapi tidak semua orang berilmu bisa melakukannya. Benar, menulis sangat terikat dengan aturan kebahasaan yagn ketat dan KBBI, sementara bicara bisa lebih bebas dan fleksibel. Karena menulis addalah keterampilan, maka ia sangat bisa dilatih dan dikembangkan, setidaknya butuh waktu 1.000 jam mengasah diri untuk sampai ke level penulis yang excellence dan butuh waktu sekurang-kurangnya 10.000 jam untuk sampai ke level expert (ahli). Tetapi, kabar baiknya, menjadi hebat, banyak manfaat dan luar biasa itu bukan soal kecerdasan, tapi keberanian untuk memulai. Bukankah jarak 1.000 mil dimulai dengan satu langkah? Dan di Pesantren Luhur ini, kita tidak berjalan dan atau berlari, kita terbang melesat jauh.
Menulis adalah sesuatu yang datang kemudian setelah belajar, membaca, menyimak, berpikir, merenung dan berdiskusi serius serta curah gagasan panjang, apalagi menulis buku-buku serius semacam filsafat dan pemikiran, atau juga terjemahan dari teks klasik dan manuskrip kuno. Tak bisa instan, tapi dengan metode SMART, keahlian bisa dipersingkat, kepakaran dapat dipercepat. Tak ada bekat besar manapun yang dapat mengalahkan ketekunan.
Kabar baiknya, di tahun kedua para Luhurian (santri) telah bisa menerbitkan buku, baik terjemahan, anotasi (syarh), antologi (bunga rampai) dan maupun karya mandiri. Secara khusus kelas menulis (Kelas Ibnu Rusyd) dilaksanaan tiap senin siang (13.00-15.00 WIB). Kelas ini terintegasi dengan Speech Presentation dan Paraphrase Class yang juga mewajibkan setiap peserta menulis sebelum berbicara atau tampil. Budaya menulis ini telah berlangsung belasan tahun sejak mula Pesantren ini berdiri. Tak mengherankan kiranya jika Pesantren Luhur Baitul Hikmah ini lebih dikenal dengan tagar #PesantrenLiterasi yang telah banyak melahirkan lusinan penulis nasional dan penerjemah handal dalam berbagai disiplin ilmu.
Untuk memantapkan skill dan membangkitkan gairah menulis dan keberaksaraan, Pesantren Luhur Baitul Hikmah, sejak 2018 bekerjasama dengan penerbit Elex Media Komputindo (Gramedia group) untuk menerbitkan dan mempublikasikan karya-karya santri secara nasional. Bahkan, tiap akhir semester, editor senior, editor non fiksi, general manager, product specialist Gramedia Jakarta serta store manager Gramedia datang langsung memberi pelatihan menulis dan berdialog interaktif seputar perkembangan dunia penerbitan.
Dengan model pembelajaran SMART (Soft skill, Measurable, Actionable, Responsible and Time-bound), tak butuh waktu lama bagi santri baru untuk bisa menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam tulisan berkelas. Terintegrasinya Pesantren Luhur Baitul Hikmah dengan STF Al-Farabi—sebagai kampus pemikiran—pada gilirannya akan membantuk karakter dan memahat kepribadian santri untuk menjadi pribadi yang smart, berpikir dan bertindak dengan smart, bergaul, berwawasan dan kelak mengamalkan ilmu, bermasyarakat dan menjalani hidup dengan smart pula.
Nyaris seratus karya dari berbagai genre dan disiplin baik terjemahan maupun karya tulis ilmiah telah dihasilkan oleh Luhurian Reaserch and Media—sebagai tradisi ilmiah—di setiap ulang tahun pesantren, para Luhurian menyebutnya “Hilang Tahun”, (karena tahun tak pernah terulang). Ya, setiap harlah Pesantren, yakni pada minggu ketiga November (bertepatan dengan Hari Filsafat Sedunia), para Luhurian mengadakan “konser buku maraton” atau disebut Bulan Buku selama nyaris satu bulan, inilah surganya buah pemikiran yang ditunggu-tunggu oleh para santri, alumni dan masyaraakat sekitar pesantren. Dimulai dengan lomba-lomba menulis dan ide-ide kreatif di bidang kepenulisan, bedah buku karya santri, bincanf buku, gelar wicara, siniar, seminar, diklat menulis untuk umum, sampai acara Puncak Hilang Tahun, yakni penyerahan karya-karya tulis santri kepada Pengasuh Pesantren.
Tak hanya kitab kuning (buku agama) sebagaimana pondok pesantren pada umumnya, bahkan kitab-kitab putih (buku pemikiran dan filsafat) telah menyatu dan berjalin-jemalin, berpilin dan mendarah-daging di Pesantren Literasi ini, dipelajari secara mendalam dan didialogkan, diterjemahkan untuk kemudian ditulis dan puncaknya diterbitkan dan dipasarkan (bekerjasama dengan penerbit Gramedia). Hanya di Pesantren Literasi ini, minat baca dan tradisi SDM Bangsa ini bisa diharapkan, justru di tengah degradasi dan buruknya produk pendidikan nasional yang kerap berganti kurikulum.






