Konsentrasi Kitab Kuning
Takhassus / Konsentrasi Kitab Kuning
Kitab kuning adalah ciri khas pesantren sejak mula lembaga ini didirikan pada 1476 M. Kitab Kuning adalah buku berbahasa Arab klasik berwarna kuning atau kekuning-kuningan agak oranye alias kitab-kitab tradisional khas Pesantren tanpa harakat dan atau tanda baca. Ia lazim juga disebut sebagai Kitab gundul. Kandungan dan matra Kitab Kuning sangat variatif, tetapi lazimnya adalah kitab matan (teks utama), syarh (anotasi) dan hasyiyah (penjelasan dari syarh).
Laju pengetahuan dan gerak akademik di Pesantren cenderung lambat karena pengetahuuan agama, misalnya fikih disampaikan dengan sangat lambat, berkala, musikal-bernazam, membudaya dan relatif banyak pengulangan. Konten dari matan, syarh dan hasyiyah relatif sama dan nyaris tidak ada inovasi. Belum lagi kultus akan sarjana tertentu, ulama dan imam juga turut “memperlambat” kemajuan peradaban Islam meski di sastu sisi meneguhkan keimanan, tradisi dan ortodoksi.
Tentu tujuan para pengasuh Pesantren klasik itu agar ilmu menubuh menjadi tradisi, memahat pekerti dan kepribadian santri, mendarah-daging menjadi keseharian santri dan ciritama kaum sarungan itu sendiri. Seiring dengan akselerasi arus informasi, maka Pesantren Luhur Baitul Hikmah—dengan mengusung model pembelajaran atau epistemologi SMART (Soft skill, Measurable, Actionable, Responsible and Time-bound)—mempercepat penguasaan Kitab Kuning dengan karantina dan pendampingan khusus setiap bakda maghrib, dan setoran bacaan Kitab Kuning baik kepada Pengasuh langsung maupun kepada asatidz, sehingga di tahun ke-2 nyantri para Luhurian sudah lancar membaca dan menerjemah Kitab Gundul tingkat dasar secara akurat, seperti Sullamuul Munawraq, Fathul Qarib, Al-Ajurumiyyah, Kifayatul Awwam, I’rabul Qur’an, Tafsir Ummahat (At-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Al-Baghawi), Qawaid Asasiyyah fi Mustalahil Hadits, Al-Hikam Al-‘Athaiyyah, dll. Baru pada tahun ke-3 para Luhurian sudah bisa membaca, mendaras dan mendiskusikan secara bernas “Kitab-kitab Putih” seperti Tarikh Ibnu Khaldun, Tahafut Al-Falasifahnya Imam Al-Ghazali, Tahafut Tahafut-nya Imam Ibn Ruysd, Ra’sul Mal Karl Marx dan Ma Ba’da Thabi’ahnya Aristoteles dan sejenisnya.
Kabar baiknya, Kitab Kuning khas Pesantren bisa kita dapati pada tiga matra pengetahuan dalam Islam dan tiga pilar agama (Islam, Iman dan Ihsan) sekaligus. Dari Kitab Kuning pula, para Luhurian mencandra bahwa rukun (pilar) Islam melahirkan ilmu fikih (yurisprudensi), episentrumnya adalah syari’at sementara orientasinya tak lain adalah li ishlahizh-zhawahir (untuk memperbaiki sisi lahiriah manusia dengan ibadah secara disiplin), dan para gurutama di bidang ini disebut faqih (yuris). Adapun Iman menginspirasi pembabaran ilmu tauhid, core value-nya adalah akidah dan tujuannya li ishlahil-bawathin (meng-up grade) kualitas batin dengan mengenal Allah SWT melalui pendekatan rasional. Para naratama di bidang ini disebut mutakallimin (teolog). Dan puncaknya adalah Ihsan, ia membidani lahirnya ilmu tasawuf yang arustamanya adalah pekerti sementara sasarannya adalah li ishlahid-dhama’ir was-sara’ir (memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dengan mengobati nurani dan rohani—atau lazim disebut tazkiyyatun-nafs atau purification of soul—melalui pendekatan filosofis-teorotis dan prakis). Ya, para adiguru di bidang ini disebut sufi (mistikus).
Dalam kosmologi Pesantren, para Luhurian diajarkan bahwa transmisi ulumud-din melalui manuskrip-manuskrip kuno bernama Kitab Gundul, sehingga menguasai teks dan gaya bahasa Kitab Kuning akan sangat memudahkan santri memahami agama dari sumber-sumber otoritatif dan dalam satu tarikan napas, para Luhurian belajar menerjemah, tentu piranti teknis (ilmu alat) seperti ilmu Nahwu, Sharf, I’lal, Manthiq, Balaghah, I’rabul Qur’an, dan beberapa kamus istilah sudah wajib dikuasai tiap santri pada tahun pertama.
Demi menggamit visi dan misi Pesantren, yakni membentuk insan kamil, 14 tahun perjalanan Pesantren Luhur Baitul Hikmah memberikan sumbangsih bagi keilmuan, pendidikan dan tentu saja peradaban Islam, Pesantren Literasi ini telah berkembang dan memiliki 5 konsentrasi (takhassus) pembelajaran—salah satunya konsentrasi Kitab Kuning—yang akan ditempuh setiap santri baru selama 5 tahun (4 tahun sembari kuliah di STF Al-Farabi ditambah 1 tahun praktikum dan darmabakti). Setiap santri yang memiliki kemampuan akademik memadai (berdasarkan tes kelayakan) serta dapat membagi waktu dengan kuliahnya secara proporsional, diperkenankan mengambil dan mendalami lebih dari satu takhassus pada tahun ke-2 hingga tamat belajar di Pesantren Luhur Baitul Hikmah.
Mengetengahkan motto 4-K, yakni: Kedalaman Spiritual (Spiritual Depth), Keluhuran Budi (Noble Character), Kemajuan Berpikir (Progressive Thinking) dan Keunggulan Prestasi (Excellence of Achievement), maka para Luhurian ini tak hanya bertungkus-lumus mendalami ilmu-ilmu “akhirat” sebagaimana jamak diajarkan di pesantren-pesantren ssebagai kurikulum wajib, tapi lebih dari itu Pesantren ini juga mempersenjatai para Luhurian dengan ilmu-ilmu “dunia” (filsafat, logika, retorika, politik, ekonomi, sejarah, saintek, teknologi informasi, kepemimpinan, strategi dakwah, social engineering, kecakapan publik, dan ilmu-ilmu profan lainnya) sebagai bekal meraih kesuksesan kelak dan hidup yang layak.
Dengan menerapkan falsafah Spirit of CHANGE (Creative, Holistic, Acceptable, Networking, Goal-oriented, Efficiency), program takhassus Kitab Kuning ini diterapkan secara ketat, terukur, inovatif, dengan pendampingan secara menyeluruh, mangkus-sangkil, sistematis, mudah diterapkan, ramah gen-Z dan terintegrasi dengan teknologi pendidikan mutakhir, kecerdasan buatan (AI) misalnya. Hal ini akan terasa mudah dan bahkan sangat menyenangkan dengan pembiasaan berjenjang lagi berkesinambungan dan iklim belajar yang kondusif lagi nyaman. Kami sadar bahwa setiap santri itu unik dan memiliki bakat terpendam yang beragam, sehingga dengan kian banyaknya pilihan keahlian yang kami tawarkan, maka para Luhurian bisa memilih kepakaran tertentu yang akan dikuasainya.
Mengusung model pembelajaran SMART (Soft skill, Measurable, Actionable, Responsible and Time-bound), sehingga setelah tahun pertama fokus terhadap pemantapan Tahsinul Qur’an (pembekalan dan perbaikan bacaan Al-Qur’an), baik lisan maupun tulisan (imla’) dan ubudiyah standar, para santri diarahkan, dibekali keterampilan dan pendampingan yang smart untuk memilih sesuai minat dan capaian akademik salah satu dari 5 program takhassus (tasawuf, filsafat, tafsir, teologi dan kitab kuning) pada tahun kedua hingga tamat belajar dan beroleh gelar sarjana dari STF Al-Farabi. Terintegrasinya Pesantren Luhur Baitul Hikmah dengan STF Al-Farabi—sebagai kampus pemikiran—pada gilirannya akan membantuk karakter dan memahat kepribadian santri untuk menjadi pribadi yang smart sesuai dengan konsentrasi program takhassus yang ditekuninya, sehingga kelak setelah terjun ke tengah-tengah m asyarakat santri dapat berkontribusi dengan smart, berpikir dan bertindak dengan smart, bergaul, berwawasan dan pada gilirannya mengamalkan ilmu, bermasyarakat dan menjalani hidup dengan smart pula. Insya Allah.
***






