A. MENGAPA INDONESIA DAN UMAT ISLAM TERBELAKANG?
Kalau sobat gen-Z mau coba-coba searching majalah-majalah bisnis dunia seperti Forbes, Fortune, The Economist, CEOWorld, Harvard Business Review dan Fast Company, atau coba deh kepoin majalah-majalah saintek dunia misalnya, The Scientist, PopSci, iD (Ideas And Discoveries, Scientific American Mind, maupun bacaan-bacaan populer seperti, Time Magazine, The Watchover, Reader’s Degest, People dan sejenisnya, tiap kali majalah-majalah kenamaan itu merilis Daftar Top 10 teranyar di segala bidang: sains, teknologi informasi, wirausaha, orang terkaya, para penemu, teknokrat, ekonom, filsuf, dokter, tokoh berpengaruh dan bahkan peraih nobel, nyaris tidak pernah ada nama-nama Islam dan apalagi Indonesia. Tahu penyebabnya apa? Ya, pendidikan, Bro. satu ranah di mana Negara kita masih bingung dan coba-coba.
Apapun alasan dan pembelaannya, harus dengan besar hati dan lapang dada kita akui bahwa pendidikan Indonesia (dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi) tertinggal 128 tahun dibandingkan negara-negara maju seperti Finlandia, Korea Selatan dan Kanada—meski peringkat pendidikan kita berada di urutan 67 dunia—bahkan kita tertinggal 60 tahun dibandingkan tetangga kecil kita, Singapura. Aneh, kita setara dengan Jepang di tahun 1945, selevel Korea Selatan pada dekade 60-an, dan tidak jauh beda dengan Tiongkok pada era 70-an, tapi sekarang? Mereka melesat jauh menjadi mercusuar pengetahuan dan peradaban.
Miris, memilukan dan memalukan, bahkan minat baca bangsa Indonesia terburuk kedua di dunia setelah Bostwana (salah satu negara terbelakang di Afrika) berdasarkan riset UNICEF. Tak pelak, ketika pelajar di China sudah banyak melakukan riset inovatif dan temuan-temuan mutakhir di berbagai bidang, guru dan murid-murid di negeri +62 ini malah sibuk joget dan nyampah sampah di TikTok, sibuk cari validasi palsu di dunia maya, pamer kebebalan, kebodohan dan sebagian pamer aurat di platform video berbagi dan media-media sosial. Inikah Indonesia emas yang kita harapkan? Bukankah ini Indonesia cemas!
Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, kondisi umat Islam Indonesia tak kalah mengerikan: baperan, religius tapi tak rasional, sumbu pendek, nirpustaka, tuna baca, ogah menghargai perbedaan pendapat, dan gampang teriak kafir-syirik-bid’ah serta banjir stok penceramah, pengasong agama dan penjual cerita-cerita halu serta khurofat.
Praktis kaum beragama di Sabang-Merauke ini hanya sibuk dengan penampilan, skincare, tanpa kedalaman ilmu dan keluasan pemahaman, sebagian besar malah sibuk mendalami agama hanya pada ilmu-ilmu naqli (ilmu tekstual, misalnya fikih, hadits dan tafsir), sementara ranah ‘aqli (ilmu-imu rasional, seperti filsafat, logika, saintek dan ilmu-ilmu sosial humaniora) nyaris ditinggalkan sama sekali dengan dalih itu semua adalah ilmu kafir dan produk Barat. Padahal, tak kurang dari 600 tahun Islam menguasai dunia dengan menguasai ilmu dan temuan-temuan monumental di berbagai bidang justru dengan memberikan penghargaan kepada kebebasan berpikir, filsafat dan sains dengan berdirinya lembaga riset dan penerjemahan Baitul Hikmah (House of Wisdom). Tak terhitung umat Islam di Indonesia (karena malas baca) beranggapan bahwa filsafat tidak penting untuk diajarkan, bahkan tak sedikit tokoh-tokoh agama kita yang menuduh filsafat sebagai ancaman bagi agama dan perusak akidah.
Inilah jawaban mengapa umat Islam terbelakang padahal dahulu kita menguasai dunia. Inilah sebab utama mengapa Indonesia jauh tertinggal padahal dahulu kita (Kutai Martadipura, Sriwijaya, Tarumanegara dan Majapahit) adalah negara adidaya.
B. KENAPA HARUS BELAJAR DI PESANTREN?
Pintar saja tidak cukup, benarkah? Ya. Betapa banyak ilmu dan keahlian tertentu disalahgunakan, betapa sering kecakapan dan bakat-bakat besar justru menjerumuskan seseorang. Bahkan, praktik-praktik korupsi, penyimpangan dan kerusakan justru dilakukan oleh orang-orang pandai dan hebat. Apa yang kurang? Akhlak! Ada yang salah? Tentu, kecakapan dan life skill memang sangat dibutuhkan untuk sobat milenial dan zilenial mencapai puncak, tetapi kepribadian menjadi pelindung yang akan mencegah kita jatuh dan tersungkur ke jurang kehancuran. Artinya, jika karakter hilang, semua pencapaian hebat akan lenyap. Ya, pintar saja tidak cukup. Pekerti adalah puncak segala ilmu, perangai adalah nilai.
FYI, lembaga pendidikan khas Indonesia adalah pesantren, ia berasal dari kata Sansekerta “Shastri” yakni orang yang yang mempelajari Kitab Suci (Shastra), sementara tempat mereka belajar disebut pe-shastri-an atau pondok pesantren. Dengan mengunduh nilai-nilai Kitab Suci, maka prilaku dan adab seorang santri menjadi mulia (akhlaqul karimah).
Nah, untuk memperbaiki Bangsa dan Negara, hanya ada satu titik yang pasti bisa rancang-bangun ulang, dan itu adalah pekerti, dipahat saat demi saat di pesantren, dicontohkan para gurutama, diteladankan kiai. Pesanren adalah benteng mental dan budi pekerti. Nah, jika Negara ini kacau, kita tidak bisa memperbaiki hanya dengan memoles bagian luarnya saja, tapi harus dari dalam, dari akhlak dan cara berpikir, yang notabene adalah ciritama perantren ini.
Dahulu santri turut andil mengusir penjajah, mendirikan Negara dan memperjuangkan sekaligus mempertahankan kemerdekaan. Bahkan kaum sarungan mendirikan puluhan ribu lembaga pendidikan dan sarana ibadah uuntuk menjaga moral Bangsa. Kita pernah memiliki presiden seorang ulama, wakil presiden, puluhan menteri dan nama-nama besar lainnya. Dan kini, sekali lagi peran santri sangat dinanti dan dibutuhkan di tengah dekadensi yang kian merajalela.
Pesantren mengajarkan sekian matra dan disiplin ilmu dari berbagai belahan dunia, itu artinya wawasan santri adalah lintas peradaban. Karena itu, santri harus mendunia, harus viral dan punya pengaruh internasional. Tentu saja dengan menguasai bahasa-bahasa internasional. Kabar baiknya, Pesantren Luhur Baitul Hikmah telah menerapkannya dengan mewajibkan seluruh santri berbahasa Inggris, bahkan semua kajian di Pesantren ini (mengaji kitab kuning dan putih, sorogan kitab klasik dan kontemporer, kajian tafsir muqaran, speech presentation, pembacaan diba’iyah, parafrase dan debat ilmiah) semuanya dalam bahasa Inggris.
C. SATU-SATUNYA DI INDONESIA
Ramadan 2023, dalam sebuah tanya jawab setelah bapak Ach Dhofir Zuhry, pendiri Pesantren ini memberi kuliah di Yale University, Columbia University dan California University ditanya dengan beberapa pertanyaan senada: mengapa para sarjana Islam (ulama) Indonesia tidak banyak menulis sebagaimana zaman keemasan Islam dulu, bukankah Indonesia mayoritas muslim? Mengapa masyarakat pesantren cenderung menjaga tradisi dan menjunjung ortodoksi, kolot, bahkan kurikulum pesantren banyak mengulang serta kultus kepada ulama klasik? Apa sumbangsih pesantren untuk kemajuan negara? Semua pertanyaan itu dijawab oleh Pesantren Luhur Baitul Hikmah: Pesantren Filsafat, Pesantren Literasi.
Inilah Pesantren Luhur Baitul Hikmah, pesantren yang tak hanya mengajarkan ilmu-ilmuu akhirat, tapi juga ilmu-ilmu dunia, ilmu-ilmu rasional. Satu-satunya dari 28.000-an jumlah pesantren di Indonesia. Nyaris seratus karya dari berbagai genre dan disiplin baik terjemahan maupun karya tulis ilmiah telah diterbitkan—sebagai tradisi ilmiah—di setiap ulang tahun pesantren. Tak hanya kitab kuning (buku agama) sebagaimana pondok pesantren pada umumnya, bahkan kitab-kitab putih (buku pemikiran) telah menyatu dan berjalin-jemalin di Pesantren Literasi ini, dipelajari secara mendalam dan didialogkan, diterjemahkan untuk kemudian ditulis dan puncaknya diterbitkan (bekerjasama dengan penerbit Gramedia).
D. RAIH MASA DEPANMU SEKARANG?
Kedalaman Spiritual, Ketinggian Pekerti dan Kemajuan Pemikiran adalah azimat para Luhurian (Santri Pesanren Luhur Baitul Hikmah) ini. Serta Doakan Kerjamu, Kerjakan Doamu adalah motto darri Pesantren Literasi ini. Dengan tradisi baca-tulis yangg ketat, dialog, diskusi dan curah gagasan yang bernas, para Luhurian disiapkan menjadi para sarjana dan pemikir, dirancang untuk menjadi filsuf dan terus menggairahkan pengetahuaan sebagai pilar peradaban, bahkan, go international. Sekali lagi, kemajuan dan kejayaan itu by design bukan by accident.
Kemajuan, kesuksesan dan kejayaan adalah hak setiap orang, betapa banyak orang-orang yang sudah sangat dekat dengan kesuksesan, tetapi kemudian mereka putus asa dan menyerah atau mereka mungkin tak tahu cara dan belum punya kesempatan meraih sukses. Namun demikian, karena kemajuan yang sehat butuh pemantik, ia tidak mungkin berangkat dan membentuk dirinya sendiri sedemikian rupa. Tak ada bambu yang bisa melubangi dirinya sendiri untuk menjadi seruling, tidak ada bilah-bilah bambu yang mampu menyusun merekat diri mereka sendiri menjadi rakit.
Begitu pula rancang bangun peradaban manusia yang mutlak ditulangpunggungi oleh p(em)ikiran yang cemerlang. Nah, apa lagi kalau bukan filsafat? Ya, setiap ilmu memiliki filosofi, setiap kemajuan ada dasar filsafatnya. Inilah mengapa pondok ini ditahbiskan sebagai Pesantren Filsagfat.
Akan tetapi, semua disiplin ilmu dan matra pengetahuan idealnya harus rendah hati dan bekerjasama satu sama lain demi kemajuan manusia Indonesia. Ilmu dengan agama, saintek dengan filsafat, sejarah dengan budaya, semuanya berpilin bersenyawa membentuk keindonesiaan dan keberislaman demi membersamai umat manusia menghadapi dan menyelesaikan persolan-persoalan hidupnya serta meraih kejayaannya ang hilang. Yuk, raih masa depanmu di Pesantren Filsafat ini, di Pesantren Literasi ini.
Salam Al-Hayulani bil Fi’lil Mustafad, Wassamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris

Segala hal yang berkaitan dengan kegiatan menulis, termasuk proses, teknik, dan gaya menulis.





