• Selamat Datang Santri/Santriwati di Situs Resmi Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Kamis, 30 Juli 2026

Konsentrasi Tasawuf

Konsentrasi Tasawuf
Bagikan

Takhassus / Konsentrasi Tasawuf

Terdapat tiga matra pengetahuan yang bertali-temali erat dalam Islam dan dalam satu tarikan napas ia juga berjalin-jemalin dengan tiga pilar agama (Islam, Iman dan Ihsan). Pengetahuan-pengetahuan itu terus berkembang dan menyejarah, ia senantiasa membelum dan dengan demikian mewarnai setiap babak kehidupan manusia, hingga hari ini. Kelak dari rukun (pilar) Islam melahirkan ilmu fikih (yurisprudensi), episentrumnya adalah syari’at sementara orientasinya tak lain adalah li ishlahizh-zhawahir (untuk memperbaiki sisi lahiriah manusia dengan ibadah secara disiplin), dan para gurutama di bidang ini disebut faqih (yuris). Adapun Iman menginspirasi pembabaran ilmu tauhid, core value-nya adalah akidah dan tujuannya semata li ishlahil-bawathin (meng-up grade) kualitas batin dengan mengenal Allah SWT melalui pendekatan rasional. Para naratama di bidang ini disebut mutakallimin (teolog). Dan puncaknya adalah Ihsan, ia pada gilirannya membidani lahirnya ilmu tasawuf yang arustamanya adalah pekerti sementara sasarannya adalah li ishlahid-dhama’ir was-sara’ir (memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dengan mengobati nurani dan rohani—atau lazim disebut tazkiyyatun-nafs atau purification of soul—melalui pendekatan filosofis-teorotis dan prakis). Ya, para adiguru di bidang ini disebut sufi (mistikus).

Dalam kosmologi tasawuf, para Luhurian diajarkan bahwa ada sisi “batin” dari setiap ibadah lahir. Syahadat adalah sisi lahir, sementara hakikatnya adalah musyahadah, mempersaksikan secara rohani dengan mata batin (eye of heart). Shalat itu ibadah lahir, adapunn sisi batinnya adalah shilah (senantiasa tune in dan conneect kepada Allah, baik di dalam maupun lebih-lebih di luar salat). Sementara itu, esensi zakat adalah tazkiyyatun-nafs (penyucian jiwa) dan puasa (shiyam) itu baru aspek lahiriah semata, adapun sisi batinnya adalah shaum (menahan diri dari segala bentuk prilaku dehumanistik). Akhirnya, haji—yang mana gelar ini adalah “pemberian” Belanda untuk mempermudah pola identifikasi terhadap perlawanan Bumiputra di zaman penjajahan—itu sebatas lahiriah dengan mengunjungi tanah suci Mekah, semantara sisi batinnya adalah al-qashd (hati senentiasa menuju dan tertuju kepada Allah semata).        

Tasawuf dan atau akhlak adalah puncak dari religious sciences, ia adalah fase terakhir setelah syariat dan akidah. Dengan kata lain, syariat tanpa hakikat itu nirmakna, sebaliknya hikikat tanpa syariat itu omong kosong. Kelak, dengan moralitas inilah manusia sama sekali berbeda dengan binatang serta dalam satu tarikan napas manusia membuat cemburu penduduk langit. Meski ketiganya (syariat, akidah dan pekerti) saling bergantung-hubung.

Semua pengetahuan, lebih-lebih ilmu keislaman, idealnya terhubung dengan dan memang bersumber dari Al-Qur’an, bagitu juga tasawuf, ia sama sekali tidak bertentangan dengan  Al-Qur’an. Hakikatnya, Kitab Suci adalah sumber pengetahuan dan kebenaran sekaligus. Dalam sebuah testimoni, ummul mu’minin, Siti Aisyah ra mereportase bahwa pekerti Nabi adalah Al-Qur’an itu sendiri. Dan Inilah mengapa semua konsentrasi (takhassus) di Pesantren Luhur Baitul Hikmah ini baik filsafat, tafsir, tasawuf, teologi dan maupun kitab kuning saling interdependen satu sama lain dan terhubung sekaligus tersubordinasi dengan Al-Qur’an. Karenanya di tahun yang sama, para Luhurian sangat mungkin untuk  menguasai sekian matra sekaligus. 

Demi menggamit visi dan misi Pesantren, yakni membentuk insan kamil, 14 tahun perjalanan Pesantren Luhur Baitul Hikmah memberikan sumbangsih bagi keilmuan, pendidikan dan tentu saja peradaban Islam, Pesantren Literasi ini telah berkembang dan memiliki 5 konsentrasi (takhassus) pembelajaran—salah satunya konsentrasi tasawuf—yang akan ditempuh setiap santri baru selama 5 tahun (4 tahun sembari kuliah di STF Al-Farabi ditambah 1 tahun praktikum dan darmabakti). Setiap santri yang memiliki kemampuan akademik memadai (berdasarkan tes kelayakan) serta dapat membagi waktu dengan kuliahnya secara proporsional, diperkenankan mengambil dan mendalami lebih dari satu takhassus pada tahun ke-2 hingga tamat belajar di Pesantren Luhur Baitul Hikmah.

Mengetengahkan motto 4-K, yakni: Kedalaman Spiritual (Spiritual Depth), Keluhuran Budi (Noble Character), Kemajuan Berpikir (Progressive Thinking) dan Keunggulan Prestasi (Excellence of Achievement), maka para Luhurian ini tak hanya bertungkus-lumus mendalami ilmu-ilmu akhirat sebagaimana jamak diajarkan di pesantren-pesantren ssebagai kurikulum wajib, tapi lebih dari itu Pesantren ini juga mempersenjatai para Luhurian dengan ilmu-ilmu dunia (filsafat, logika, retorika, politik, ekonomi, sejarah, saintek, teknologi informasi, kepemimpinan, strategi dakwah, social engineering, kecakapan publik, dan ilmu-ilmu profan lainnya) sebagai bekal meraih kesuksesan kelak dan hidup yang layak.

Dengan menerapkan falsafah Spirit of CHANGE (Creative, Holistic, Acceptable, Networking, Goal-oriented, Efficiency), program takhassus tasawuf ini diterapkan secara ketat, terukur, inovatif, dengan pendampingan secara menyeluruh, mangkus-sangkil, sistematis, mudah diterapkan, ramah gen-Z dan terintegrasi dengan teknologi pendidikan mutakhir, kecerdasan buatan (AI) misalnya. Hal ini akan terasa mudah dan bahkan sangat menyenangkan dengan pembiasaan berjenjang lagi berkesinambungan dan iklim belajar yang kondusif lagi nyaman. Pendalaman tasawuf dan ilmu-ilmu penunjangnya lantas menegaskan bahwa tasawuf adalah cara kita mengabdi kepada Tuhan, tak hanya secara lahiriyah, lebih-lebih secara batin (‘ubudiyyah), tasawuf adalah cara kita hidup (saudara kandung filsafat), cara menusia memahami dan menjalani kehidupan hari ini dengan bersahaja, sederhana dan bebas toxic. Pendek kata, tasawuf adalah metode belajar, personal healing, detoksifikasi (menghilangkan racun-racun kedirian) bahkan tasawuf adalah obat anti galau bagi berbagai penyakit rohani kontemporer.

Mengusung model pembelajaran SMART (Soft skill, Measurable, Actionable, Responsible and Time-bound), sehingga setelah tahun pertama fokus terhadap pemantapan Tahsinul Qur’an (pembekalan dan perbaikan bacaan Al-Qur’an), baik lisan maupun tulisan (imla’) dan ubudiyah standar, para santri diarahkan, dibekali keterampilan dan pendampingan yang smart untuk memilih sesuai minat dan capaian akademik salah satu dari 5 program takhassus (tasawuf, filsafat, tafsir, teologi dan kitab kuning) pada tahun kedua hingga tamat belajar dan beroleh gelar sarjana dari STF Al-Farabi. Terintegrasinya Pesantren Luhur Baitul Hikmah dengan STF Al-Farabi—sebagai kampus pemikiran—pada gilirannya akan membantuk karakter dan memahat kepribadian santri untuk menjadi pribadi yang smart sesuai dengan konsentrasi program takhassus yang ditekuninya, sehingga kelak setelah terjun ke tengah-tengah m asyarakat santri dapat berkontribusi dengan smart, berpikir dan bertindak dengan smart, bergaul, berwawasan dan pada gilirannya mengamalkan ilmu, bermasyarakat dan menjalani hidup dengan smart pula. Insya Allah.

Ahad malam dan Senin malam (bakda isya), Senin pagi (bakda istighasah subuh) dan Selasa sore (bakda ashar) adalah surganya takhassus ini, dimulai dengan kajian Al-Hikam Al’Athaiyyah sesuai kelas masing-masing, setoran bacaan beberapa anotasi (syarh) Al-Hikam, seperti Asy-Syarqawi, Ar-Randi, Az-Zarruq, Ibnu ‘Ajibah, Asy-Syarnubi, An-Nawawi, Said Ramadhan Al-Buthi, dll sebagai pendalaman materi, bagi pemula (santri baru) membaca kamus musthalahat tasawuf terlebih dahulu dan didampingin tutor. Puncaknya, pada Senin malam Selasa (20.00 WIB), pengasuh membaca Al-Minahul Qudsiyyah ‘alal Hikam al-‘Atha’iyyah dalam bahasa Inggris dan beberapa ustadz dan santri senior membaca berbagai anotasi (beberapa dalam bahasa Inggris) sementara semua menyimak dan disiarkan langsung di kanal YouTube Luhurian Kepanjen Official dan Ach Dhofir Zuhry Official. Seturut kemudian, moderator meminpin diskusi hingga larut malam dan nyaris selalu curah gagasan, debat-debat seru dan saling bertukar-tangkap dalam perspektif mengemuka dan menyemarakkan para nokturnis di Pesantren Filsafat ini. Sebagai Pesantren Literasi, semua santri wajib mencatat dan menulis ulasan serta perspekttif mereka pasca kajian tasawuf di situs resmi Pesantren. Sekali mendayung, sekian disiplin ilmu dan keterampilan terasah.

Sudah cukup? Belum. Esok paginya bakda subuh, tujuh kali dalam sepekan ada pendalaman materi sesuai dengan takhassus (konsentrasi)  masing-masing. Demikian seterusnya, hingga tasawuf menjadi nafas dan urat nadi para Luhurian serta pada gilirannya mendetakjantungi setiap bangunan ilmu dan peradaban. Dan, mengapa Pesantren ini bernama Pesantren Luhur, tak lain adalah agar para santri (luhurian) ditempa sedemikian rupa hingga kelak memiliki keluhuran budi (noble character).

***

Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Jl. Aris Joyo Mustoko, RT./RW:/RW.05/02, Ngempit, Tegalsari, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163