Gus Dhofir Zuhry
Nama : Gus Dhofir Zuhry
Posisi : Pimpinan
VENI, VIDI, SANTRI
Agaknya, tak cukup satu istilah untuk menggambarkan betapa istimewanya tokoh yang satu ini. Sosok sangat sederhana dan low profile, tapi nampak betul kobaran api semangat dan intelektualitasnya serta ide-idenya yang melampaui zaman, terutama apabila berkesempatan mengikuti kajian-kajian ilmiah atau sekadar berbincang santai dengannya. Matang ditempa oleh perjalanan hidup yang penuh onak berduri, ia adalah figur pembelajar yang tak pernang setengah-setengah dalam berbuat, tak tanggung-tanggung dalam bertekad, menguasai banyak disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu naqli (tekstual) maupun ‘aqli (rasional), ilmu Barat dan sekaligus Timur, piawai dalam retorika, penulis produktif, menguasai sekian bahasa asing: Inggris, Arab, Jerman dan Prancis, sastrawan, duta Ngaji Literasi Gramedia, pembicara internasional, pengasuh kajian tafsir tematik NU online, ulama progresif, akademisi, aktivis media sosial terkemuka, konten kreator, ilmuwan, begawan, dan tentu saja seorang filsuf.
Pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi ini adalah Ach Dhofir Zuhry, anak kedua dari 5 bersaudara, lahir dari keluarga petani sederhana di Malang pada 27 Rajab 1404 H. Sejak kecil telah diarahkan oleh orang tuanya untuk mendalami ilmu-ilmu agama secara ketat di surau dan madrasah diniyah (sekolah agama), nyantri kalong sejak usia 8 tahun dan menetap belajar di Pondok Pesantren sejak memasuki belasan tahun. “Saya sangat beruntung karena sering, bahkan setiap malam sebelum tidur dan pagi sebelum berangkat sekolah dikasih air minum yang sudah dibacakan Al-Qur’an oleh mak dan bapak saya, dan barakahnya terasa hingga saat ini.” ujarnya dalam satu kesempatan wawancara. Tak ayal, pada usia 9 tahun (kelas tiga SD) menjadi juara ke-2 lomba Tahfizh Al-Qur’an tingkat Provinsi di masjid Sabilillah Malang.
Alumnus Madrasah Diniyah Darut-Tauhid dan PP Assaidah Babussalam Gondanglegi Malang ini mulai menunjukkan minatnya pada filsafat, sastra, kepenulisan dan organisasi sejak nyantri di PP Nurul Jadid, Paiton Probolinggo. “Saya bukan tipe santri yang rajin, saya sering bolos, bahkan lebih senang bermain dan keluyuran. Semua teman-teman saya di pondok tahu itu. Tapi, yang insya Allah istikamah saya lakukan adalah saya selalu mengaminkan doa-doa guru saya. Setelah kiai-kiai saya di Nurul Jadid bergegas meninggalkan mihrab selesai memimpin salat jamaah, saya segera berdiri persis di belakang kiai saya ngimamin salat seraya bergumam dalam hati, “amin amin amin, ya Allah, muliakanlah guru-guru saya.” Itu saja. Jadi, yang hebat itu bukan saya, melainkan doa guru-guru saya, khususnya masyayikh Nurul Jadid. Semua pencapaian kita hari ini adalah rintisan dan tirakat dari orang tua dan guru-guru kita. Kita ini bukan siapa-siapa tanpa mereka. Malah, sampai hari ini, saya tetap buka siapa-siapa.”
Pak Dhofir, begitu sapaan akrabnya, juga menulis beberapa kumpulan puisi dan cerpen, seperti: Orgasme (2015), Para Nabi dalam Botol Anggur (2006), Mari Menjadi Gila (2021), dll. Pak Dhofir pernah menjuarai lomba baca dan cipta puisi tingkat SLTA sekabupaten Probolinggo dan Situbondo ketika masih nyantri, “Betul, saya mantan penyair, bahkan pernah bermimpi meraih hadiah nobel sastra di Svenska Akademien yang satu sastrawan Indonesiapun belum pernah memenangkannya. Tapi setelah saya mempelajari puisi-puisi sufistik klasik, saya merasa malu pernah menulis puisi.”
Setelah tabarrukan, nyantri di berbagai Pesantren akhirnya pak Dhofir mantap untuk belajar filsaat di STF Driyarkara Jakarta setelah sebelumnya hanya “mampir” kuliah di ISI Yogyakarta, Universitas Islam Asy-Syafi’iyah Jakarta, Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia, “Yang ramah dompet hanya STF Driyarkara, saya suka iklim belajarnya dan kesederhanannya,” selorohnya sambil tertawa, “tapi sebenarnya kampus saya yang hakiki adalah kehidupan nyata yang saya alami langsung, khususnya di Jakarta, Brisbane dan New York. Di kampus, satu dosen bisa mengajar 40 mahasiswa, tapi di kehidupan nyata, saya sendirian mahasiswanya dan ribuan orang yang saya temui itulah dosen-dosennya. Merekalah yang membentuk kepribadian dan memahat kedirian.”
Tak hanya bertungkus-lumus di Pesantren, pak Dhofir adalah pecinta ilmu dan perjuagan. Sepulang dari melanglang buana, ia mendirikan STF Al-Farabi dan Pesantren Luhur Baitul Hikmah di Kepanjen pada 2011 sebagai bentuk khidmat pada kemanusiaan untuk meningkatkan SDM Bangsa ini. Menarik diketahui, bahwa Pesantren dan kampus rintisannya telah berpindah-pindah tempat dan kontrakan sebanyak 6 kali dalam kurun waktu 10 tahun sebelum akhirnya kini memiliki lahan sendiri yang sangat representatif di Tegalsari, Kepanjen dan terus berkembang pesat. Inilah definisi ketekunan dan sikap pantang menyerah. Ya, Indonesia tak hanya darurat literasi, darurat sampah plastik, tapi juga darurat filsafat, berpikir jernih dan nalar sehat. Inilah alasan mengapa kehadiran STF Al-Farabi dan Pesantren Luhur ini menjadi penting dan sangat mendesak., “lucunya, tak hanya diri saya pribadi yang sedari kecil hidup berpindah-pindah, bahkan STF dan pesantren Luhur ini juga demikian, hehe. Tapi, ya, nikmati saja.”
Sebagai filsuf dan penulis, pak Dhofir dikenal luas di dunia penerbitan dan kepenulisan, bahkan beberapa karya tulisnya yang diterbitkan oleh Gramedia menjadi best seller nasional, seperti Nabi Muhammad bukan Orang Arab (2020), Peradaban Sarung: Veni, Vidi, Santri (2018), Kondom Gergaji (2018), Filsafat untuk Pemalas (2023), dan yang terbaru Filsafat Timur (bukan) untuk Pemalas (2025). “insya Allah tahun ini buku saya terbit di Inggris”, ujar peraih penghargaan Encompass Award (Inggris, 2016), Kiai Digital (youtube, 2021), Anugerah Cisadane Award (2006), dan Santri Berprestasi (GP Ansor, 2012) ini.
Dengan mengusung jargon Kedalaman Spiritual, Ketinggian Pekerti, Kemajuan Pemikiran dan Keunggulan Prestasi, kini Pesantren dan sekolah tinggi rintisannya terus bergerak maju dengan tradisi baca-tulis yangg ketat, dialog-dialog elegan, diskusi dan curah gagasan yang bernas, para Luhurian (sebutan untuk santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah) disiapkan menjadi para sarjana dan pemikir, dirancang untuk menjadi filsuf dan terus menggairahkan pengetahuaan sebagai pilar peradaban, bahkan, go international. Dalam pandangan pak Dhofir, kemajuan dan kejayaan itu by design bukan by accident. Karena itu pula Pesantren Luhur Baitul Hikmah dikenal luas dengan tagar #PesantrenFilsafat dan #PesantrenLiterasi.
Meski kerap diundang di forum-forum internasional dan memberi kuliah di luar negeri, seperti di Columbia University, Yale University, University of Pennsylvania, University of California, KJRI New York, KJRI San Francisco dan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, menjadi penerjemah para petani di Asean Learning Route for Agricultural Cooperative di Thailand dan Filipina, pak Dhofir tetap membumi dan membaur dengan masyarakat di sekeliling pesantren, memberi kajian rutin untuk masyarakat sekitar, ibu-ibu, serta mewajibkan para Luhurian untuk turut hadir di tahlilan warga, khatmil qur’an, acara-acara sosial-keagamaan masyarakat dan ritual-ritual lainnya. Sederhana, tapi inilah bentuk kepedulian Pesantren kepada masyarakat—Pesantren Manunggal dengan warga. Kini, di pesantren yang diasuhnya ramai anak-anak, mak-mak dan orang tua belajar agama dan filsafat hidup. Veni, Vidi, Santri.
_______________
(diolah dari berbagai sumber oleh Tim Multimedia Luhurian dan wawancara langsung dengan narasumber, di antaranya: pesantrenluhurbaitulhikmah.ponpes.id, elexmedia.id, Gramedia.com, TIMES Indonesia, detik.com, Amazon.com.au, kemlu.go.id, NU Online, facebook.com, youtube.com, kemendagri.go.id, sindonews.com, inews.id, uinsalatiga.ac.id, lsfdiscourse.org, Harakatuna.com, republika.co.id, perpustakaan.jakarta.go.id, kabar24.bisnis.com, Tugu Malang ID, kawaca.com, islamic-center.or.id, gubuktulis.com, selaparangnews.com, wordpress.com, bpkpenabur,or.id, Scribd.com, goodreads.com, duniasantri.co, iflegma.com, instagram.com, researchgate.net, institutsunandoe.ac.id, onesearch.id, Jawa Pos Radar Malang)






