Fiqh Kebangsaan Santri NU: Merajut Ukhuwah di Tengah Ancaman Radikalisme
Assalamualaikum, Wr. Wb
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ الْأَمِينِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ. أَمَّا بَعْدُ
Hadirin wa Hadirat Rahimakumullah,
Kita hidup di zaman di mana ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) sering diuji oleh kelompok-kelompok yang menyebarkan paham radikal, intoleran, dan memecah belah. Sebagai santri Nahdlatul Ulama (NU), kita mewarisi fiqh kebangsaan yang mengajarkan keseimbangan antara keislaman dan keindonesiaan, antara loyalitas pada agama dan kecintaan pada tanah air.
1. Fiqh Kebangsaan: Landasan Santri NU dalam Bernegara
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah sunnatullah, bukan alasan untuk saling memusuhi. Fiqh kebangsaan dalam tradisi NU mengajarkan:
-
Cinta tanah air bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman), sebagaimana diajarkan Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari.
-
NKRI harga mati, karena Indonesia adalah darul mitsaq (negara kesepakatan) yang menjamin kebebasan beragama.
-
Menolak radikalisme yang mengancam persatuan, karena Islam mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, bukan kekerasan.
2. Ancaman Radikalisme dan Peran Santri
Rasulullah SAW bersabda:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
Gerakan radikalisme mengancam persatuan bangsa dengan cara:
-
Menyebarkan doktrin takfir (mengkafirkan sesama muslim).
-
Merongrong Pancasila dan UUD 1945 dengan dalih “negara thaghut”.
-
Menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan politik.
Santri NU harus menjadi garda terdepan melawan paham ini dengan:
-
Memperkuat wawasan kebangsaan melalui kajian fiqh siyasah (hukum politik Islam) yang moderat.
-
Berdakwah dengan hikmah, menebarkan Islam yang ramah, bukan marah.
-
Bersinergi dengan pemerintah menjaga keutuhan NKRI.
3. Merajut Ukhuwah: Santri NU sebagai Perekat Bangsa
Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Kita harus merajut ukhuwah dengan:
-
Dialog antarumat beragama, karena Indonesia bukan hanya milik satu kelompok.
-
Menjauhi hoaks dan ujaran kebencian yang memecah belah.
-
Meneladani para ulama NU seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang gigih membela pluralisme.
4. Langkah Nyata Santri NU di Era Digital
-
Menyebarkan konten damai di media sosial untuk melawan narasi radikal.
-
Menggelar bahtsul masail kebangsaan untuk menjawab isu-isu aktual.
-
Memperkuat jaringan pesantren sebagai pusat moderasi Islam.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sebagai santri NU, kita harus istiqamah di jalan Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga Islam Nusantara yang ramah, dan menjadi penjaga NKRI. Jangan biarkan radikalisme merusak ukhuwah kita.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjadi pelopor perdamaian di tengah ancaman radikalisme. Aamiin.
Wassalamualaikum, Wr. Wb






