TAUSIYAH: MENCETAK SANTRI MILENIAL YANG ALIM, MODERAT, DAN MELEK TEKNOLOGI
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
“يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ”
(QS. Al-Mujadalah: 11)
Hadirin yang dirahmati Allah,
Di era yang serba digital ini, tantangan terbesar kita adalah mencetak generasi santri yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga moderat dalam berpikir, dan cakap dalam teknologi. Bagaimana pesantren sebagai waratsatul anbiya (penerus para Nabi) bisa menjawab tantangan ini?
1. Santri Milenial Harus “Alim”: Berpegang Teguh pada Ilmu Agama
Allah SWT memerintahkan kita untuk menguasai ilmu agama sebelum berbicara atau bertindak (“فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ”).
-
Belajar dari metode KH. Hasyim Asy’ari, yang menegaskan:
“Santri yang tidak ngaji kitab kuning itu seperti rumah tanpa pondasi.” -
Kurikulum pesantren harus kuat dalam:
-
Aqidah Aswaja (melalui kitab Aqidatul Awam).
-
Fiqh Nusantara (seperti Fathul Qarib yang relevan dengan budaya lokal).
-
Akhlakul Karimah (melalui Ta’lim Muta’allim).
-
“Jangan sampai jadi santri gadget, tapi lupa ngaji. Jangan bisa operasikan TikTok, tapi tidak hafal surat Al-Fatihah!”
2. Santri Milenial Harus “Moderat”: Menjadi Penyeimbang di Tengah Ekstremisme
Rasulullah SAW bersabda:
“خَيْرُ الأُمُورِ أَوْسَطُهَا”
“Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.” (HR. Baihaqi).
-
Moderasi (tawassuth) adalah ciri khas Aswaja:
-
Menolak radikalisme yang mengkafirkan orang lain.
-
Menjauhi liberalisme yang mengabaikan syariat.
-
-
Contoh konkret:
-
Dakwah Gus Baha’ yang tegas dalam prinsip, tapi ramah dalam penyampaian.
-
Pesantren harus jadi garda terdepan melawan hoaks dan ujaran kebencian.
-
“Santri NU itu bukan hanya pinter debat, tapi juga pinter menjaga ukhuwah!”
3. Santri Milenial Harus “Melek Teknologi”: Menguasai Digital untuk Dakwah
Hadirin rahimakumullah,
Nabi SAW bersabda:
“اُتْبُعِ الحِكْمَةَ وَلَوْ مِنْ فَمِّ الشَّيْطَانِ”
“Ambillah hikmah, meski dari mulut setan sekalipun.”
-
Teknologi adalah pedang bermata dua:
-
Dampak negatif: Kecanduan game, pornografi, dan hoaks.
-
Dampak positif: Dakwah digital, e-learning, dan ekonomi kreatif.
-
-
Pesantren harus berinovasi:
-
Kajian online via YouTube (seperti Tebuireng Official).
-
Konten kreatif (Tiktok religi, infografis hadits).
-
Startup santri (e-commerce kitab, aplikasi tahfidz).
-
“Jangan mau kalah dengan buzzer politik! Santri harus jadi buzzer kebaikan!”
Penutup & Doa
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita berkomitmen untuk:
-
Memperdalam ilmu agama (Alim).
-
Menjadi penjaga moderasi Islam (Moderat).
-
Memanfaatkan teknologi untuk kemaslahatan (Melek Teknologi).
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ، وَوَرِّثْنَا حِكْمَةَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk ulama yang mengamalkan ilmu, dan wariskanlah kepada kami hikmah para Nabi.”
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.






