Filsafat Ibnu Bājjah 9 | Teori Tindakan Manusia II | Tadbir Al-Mutawahhid
Oleh: Gus Dhofir Zuhry Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah,
Kajian setiap hari Jum’at Pagi
Dalam kajian ini, kita memasuki pembahasan lanjutan mengenai teori tindakan manusia menurut Ibnu Bājja (Avempace), seorang filsuf besar Andalusia yang menekankan bahwa manusia dapat dikenali melalui perbuatannya (al-af‘āl al-insāniyyah). Perspektif ini senada dengan pandangan para filsuf klasik: hakikat manusia tidak dapat dilepaskan dari apa yang ia lakukan. Manusia tidak hanya “ada”, tetapi “mengada” melalui tindakannya.
Ibnu Bājja membagi perbuatan manusia ke dalam beberapa kategori, berdasarkan sumber dorongan munculnya perbuatan tersebut, yakni apakah bersifat instingtif, alami, intuitif, atau rasional. Pembagian ini penting untuk memahami bagaimana manusia bertindak, menimbang, dan menentukan pilihan-pilihan moralnya.
1. Klasifikasi Dasar Perbuatan Manusia
Ibnu Bājja mengajukan empat jenis dasar tindakan manusia:
1.1. Perbuatan Jasmaniah
Merupakan tindakan fisik murni, yang muncul dari kebutuhan tubuh manusia.
1.2. Perbuatan Thabī‘ī (Alami)
Perbuatan yang sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia, seperti merasa lapar, haus, atau merasakan panas dan dingin.
1.3. Perbuatan Intuitif (Ilhāmī)
Perbuatan yang “diilhamkan” oleh Tuhan, tidak memerlukan kalkulasi rasional atau pertimbangan mendalam.
1.4. Perbuatan Rasional (Aqliyah)
Inilah ranah utama perbuatan insani, yakni tindakan yang berangkat dari akal, nalar, dan pertimbangan.
Menurut Ibnu Bājja, hanya perbuatan rasional yang membutuhkan tadbīr dan mencerminkan kemanusiaan dalam makna utuh.
2. Perbuatan Niscaya dan Kesamaannya dengan Hewan
Sebagian tindakan manusia bersifat ḍarūrī, yaitu tindakan niscaya yang tidak dapat dihindari. Misalnya:
-
lapar → makan
-
jatuh dari ketinggian
-
terbakar api
-
merasakan sakit
Tindakan-tindakan ini tidak memerlukan ikhtiar atau pertimbangan. Dalam aspek ini, manusia memiliki kesamaan dengan hewan dan tumbuhan. Ibnu Bājja menyebutnya sebagai al-ḥiss al-musytarak, perasaan dasar yang dimiliki seluruh makhluk hidup.
3. Perbuatan Insani dan Tadbīr
Perbuatan yang disebut insani adalah perbuatan yang lahir dari ikhtiar, pertimbangan akal, dan kehendak yang sadar.
Ibnu Bājja menjelaskan:
“Setiap tindakan manusia yang dilakukan dengan ikhtiar adalah fi‘l insānī.”
Contohnya:
-
Menahan diri
-
Menentukan pilihan moral
-
Merancang tujuan
-
Mengambil keputusan
-
Mempertimbangkan akibat dalam jangka panjang
Pada titik inilah manusia berbeda dari hewan. Keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya membuat tadbir—mengatur dirinya, berpikir, mengelola dorongan, serta menentukan arah kehidupannya.
4. Stimulus, Respon, dan Infi‘āl ‘Aqliyah
Ibnu Bājja meminjam kerangka Aristoteles mengenai kategori aksi (fi‘l) dan reaksi (infi‘āl).
Pada manusia, reaksi tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga akliah (mental):
-
mengingat masa lalu yang menyenangkan
-
membayangkan peristiwa menyakitkan
-
merasakan kembali hal yang sudah berlalu
-
merespons rangsangan sosial, budaya, dan psikologis
Reaksi-reaksi akliah ini membentuk pembiasaan (habituation) yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai akhlak.
Pendidikan adalah proses pembiasaan yang berulang—apa yang diulang akan menjadi karakter.
5. Contoh Perbuatan Bahimiyah vs Perbuatan Insaniyah
Ibnu Bājja memberi contoh perbuatan hewani (bahimiyah):
-
memecah batu hanya sekadar memecah
-
menggarit kayu gaharu hanya sekadar menghapus permukaannya
Namun jika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan, orientasi, dan keterarahan, maka tindakan itu menjadi insani.
Contoh:
Menghancurkan batu untuk membangun rumah, atau mengajar satu orang tetapi berdampak pada kemajuan pendidikan sebuah komunitas. Di sini berlaku apa yang disebut dalam teori modern sebagai efek kausalitas ganda, mirip dengan teori chaos:
“Satu kepakan sayap kupu-kupu di Amazon dapat memicu badai di tempat lain.”
Tindakan kecil dapat memiliki dampak besar dan jauh.
6. Manusia sebagai Makhluk yang Harus Memilih
Ibnu Bājja mempengaruhi banyak pemikir setelahnya, termasuk eksistensialis modern seperti Jean-Paul Sartre.
Sartre terkenal dengan ungkapan:
“Human is condemned to be free.”
Manusia dikutuk untuk bebas.
Artinya, manusia tidak dapat menghindar dari kebebasan memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Hal ini sejalan dengan Ibnu Bājja:
manusia tidak dapat didefinisikan oleh esensi yang tetap, tetapi oleh perbuatannya.
Dalam hadis Nabi juga ditegaskan:
“Seseorang tidak dianggap beriman ketika ia sedang mencuri atau berzina.”
Karena ketika ia melakukan tindakan itu, ia mengingkari nilai iman melalui perbuatannya.
7. Manusia dan Jiwa Bahimiyah
Menurut Ibnu Bājja, manusia juga memiliki aspek jiwa bahimiyah—naluri purba.
Jika tindakan dilakukan tanpa orientasi, tanpa tujuan, dan tanpa pertimbangan, maka tindakan itu bersumber dari jiwa bahimiyah, bukan dari jiwa rasional.
Contoh:
bertindak karena takut, marah, dendam, impuls, atau kepanikan—tanpa pertimbangan moral.
Dalam kerangka Ibnu Bājja, manusia dikenal melalui tindakannya.
Tindakan yang dibimbing akal—bukan naluri—melahirkan kemanusiaan yang sejati.
Tadbīr al-Mutawahhid menekankan pentingnya pengelolaan diri melalui:
-
kesadaran,
-
pilihan moral,
-
pengendalian nafsu,
-
serta orientasi hidup yang terarah.
Manusia yang tidak mengatur dirinya akan jatuh pada derajat hewan;
sementara mereka yang menata dirinya akan mencapai derajat spiritual dan intelektual yang tinggi.
Penutup
Kajian ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada asal-usul, status, atau bentuk luar, tetapi pada apa yang ia lakukan, bagaimana ia mengelola dirinya, dan bagaimana ia memberi makna pada hidupnya.
Semoga kajian ini bermanfaat dalam menata diri, menata pikiran, dan menata tindakan kita.







Komentar menunggu persetujuan admin
[…] Baca Juga : Filsafat Ibnu Bājjah 9 | Teori Tindakan Manusia II | Tadbir Al-Mutawahhid […]