Intimitas Bersama Tuhan
Tuhan datang menghampiri pikiran kita sebagai teks atau pengetahuan, di mulai dari akal kita akan diajak menafsirkan bagaimana sesungguhnya Tuhan yang selama ini kita sembah? Tuhan yang transenden apakah bisa di temukan oleh manusia yang terbatas? Mungkin salah satu jawabanya adalah merenung dan menghayati keberadaan Tuhan dengan menggunakan seluruh fasilitas yang sudah tuhan berikan seperti yang selama ini kita kenal sebagai indra.
Baca Juga : Menulis, Berfikir dan Menafsir
Oleh karena itu salah satu sebutan bagi manusia yaitu hewan yang berfikir, dengan berfikir kita akan mengetahui sebuah kebenaran. Kalau kita masuk pada pembahasan tentang filsafat, ada dua peradaban besar dalam filsafat, peradaban barat dan peradaban timur. peradaban barat cenderung berfikir secara rasional, sedangkan peradaban timur cenderung pada ranah spiritual, karena di barat sudah berfikir bagaimana merubah dunia berbeda dengan di timur masih sibuk bagaimana merubah dalam diri seseorang.
Di sisi lain terdapat filsafat islam yang lahir di abad pertengahan sekitar abad ke-3, yang dimana saat itu agama sebagai sang domina atau penderang, semua harus tunduk pada otoritas gereja sehingga siapa yang tidak tunduk akan dibunuh atas nama agama, kondisi di barat. Tetapi filsafat islam berbeda dengan dua peradaban besar diatas, para filsuf islam menggabungkan antara rasio dengan intuisi. Dimulai dengan tokoh yang bernama al Kindi sampai tokoh setelahnya seperti ibnu Sina, al Farabi, dan lain sebagainya.
Dalam filsafat islam juga terdapat beberapa mahzab atau ajaran seperti emanasi, iluminasi sufisme, dan yang terakhir mahzab pluralisme. Awal abad ke-2 H banyak melahirkan tokoh tasawuf yang sangat mengedepankan cara berfikir yang merujuk pada kebahagian batin. Dengan cara menjalani kehidupan yang sederhana dalam arti asketik. istilah ini juga sering disebut zuhad. bentuk jama’nya yakni Zahid yang artinya mendayagunakan harta dunia secukupnya dan bersosialisasi dengan masyarakat.
Ada beberapa tokoh yang terfokus pada bidang tasawuf seperti Rabiah al-Adawiyah, al-Hallaj dan Maulana Jalaluddin Rumi. Mereka adalah para pemikir yang sastrawi atau puitis yang menghantarkan pada hakikat melihat Tuhan. Salah satu sebutan bagi mereka adalah mazhab pluralisme yang menganggap tujuan terakhir dari kebahagian dan kebenaran ialah dengan bertemu kekasih yang selama ini dirindukan, yaitu Yang Tunggal (Tuhan).
Untuk mencapai maqam Ma’rifat bagi sebagian sufi dengan uzlah, seperti yang dilakukan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Karena beliau memilki sikap skeptis terhadap pengetahuan yang Ia miliki, sehingga tidak mengantarkannya pada ketenangan jiwa bersama Tuhan. Karena itu Imam Al-Ghazali terus mencari sampai pada titik dimana Ia tidak lagi merasa cukup akan banyaknya fun ilmu yang sudah dipelajari. Berbeda halnya dengan sufi dari Persia satu ini, Ia bernama Fariduddin at-Thar nama asli beliau Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Abu Bakar Ibrahim yang lahir di Nisyapur, Persia pada 1142 M dan wafat di tempat Ia dilahirkan pada 1230 M. Istilah `Aththar sendiri diperoleh karena Ia seorang peracik minyak wangi dan obat-obatan.
Dalam perjalanan spiritualnya, agak berbeda dengan tokoh sufi lain karena Ia mengalami peristiwa yang mungkin menjadi salah satu jalan spiritualnya, sehingga Ia memutuskan untuk memilih jalan sufi. Ketika `Aththar didatangi oleh seorang Darwis (sufi pengembara) yang pada saat itu juga kebetulan`Aththar sedang menjaga kedai miliknya, seorang Darwis itu mendekat lalu mencoba menghirup bau parfum yang disajikan oleh `Aththar. Dengan tarikan nafas panjangnya, keharuman parfum itu membuat sang Darwis menangis. Dalam hati `Aththar terbesit prasangka negatif pada Darwis itu yang seakan-akan ingin meminta uluran tangan dari `Aththar. Tak lama kemudian `Aththar meminta ia untuk menjauhi kedai miliknya itu.
Sebelum Darwis itu melangkahkan kakinya, Ia menjawab besitan hati `Aththar yang seakan mengusirnya, “Tidak dapat bagi saya untuk mengahalangi tokomu ini. Tak sukar pula bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padamu hanyalah bulu domba yang lusuh ini. Tetapi bagaimana engkau? Aku justru sangat kasian padamu. Bisakah kau mengubah pendirianmu tnetang kematian dan bagaimana dengan lapang dada kau mau meninggalkan harta kekayaan yang berlimpah ini?
Karena perkataan itu `Aththar berubah pikiran yang sebelumnya Ia berpikiran keduniawian. Kemudian `Aththar menjawab tanpa pikir panjang, Ia berkata, “Aku mau hidup sederhana dan sanggup meninggalkan harta bendaku ini untuk mencari kebenaran”. Darwis itu memberi wejangan lebih lanjut pada `Aththar, “kuharap engkau mau menjadi faqir dan bebas dari belenggu duniawi”. Setelah selesai Ia berbicara, seketika itu Darwis terjatuh dan tergeletak. Tak disangka Darwis itu sudah meninggal dalam hitungan menit bahkan detik, tidak diketahui apa sebab kematiaanya.
Setelah kejadian itu, `Aththar mulai mendalami agama dengan berguru kepada tokoh tasawuf terkenal di kala itu, ialah Syekh Bukhuddin. Tidak hanya itu, Ia juga segera meninggalkan seluruh masalah dunia dan dipindah tangankan kepada teman dan saudaranya.
pada pemikiran `Aththar, mungkin Ia tidak terlalu spesifik menjelaskan tentang jalan spiritualnya, lebih mudah Ia menyampaikan dengan meng-analogikan pengembaraan kawanan burung untuk mencari rajanya yang disebut dengan Simurgh yang bertempat di pucuk gunung Qaf, Ia ditemani burung Hudhud. Yakni burung kesayangan Nabi Sulaiman AS yang melambangkan guru sufi yang sudah mencapai maqam ma’rifat paling tinggi. Untuk burung yang menjadi pengikut dari burung hudhud itu diibaratkan jiwa manusia yang gelisah karena kerinduannya akan hakikat ketuhanan.
Dalam perjalanan, burung-burung itu akan melintasi lembah-lembah yang dalam istilah `Aththar sebagai tahapan perjalanan sufi menuju Cinta Ilahi. Di tengah perjalanan, setiap salik pasti mendapati kondisi batin khusus. Kondisi ini menggambarkan seorang salik yang sedang mencari cinta tuhannya, mereka akan melewati beberapa fase mulai dari Lembah Pencarian hingga Lembah Faqir Dan Fana’.
Seorang salik akan melewati lembah yang pertama yaitu lembah pencarian, dalam lembah pencarian salik diharuskan bisa menuntaskan banyak kesulitan, rintangan dan godaan. Seperti kecintaanya kepada dunia ia harus bisa melepaskan, sehingga ia terselamatkan dari kehancuran pada diri. Dan tidak ada masalah yang lain bagi salik kecuali tujuan murni bertemu Tuhannya. di lembah pencarian ini salik harus memiliki cinta dan harapan agar mampu menerima cobaan dengan bersabar.
Selanjutnya salik akan menapaki lembah yang kedua yaitu lembah cinta, dalam istilah ‘Aththar cinta itu lambang sebagaimana api yang menyala terang, sedangkan pikiran itu diibaratkan sebagai asap yang mengaburkan. Tetapai dengan cinta bisa menyingkirkan asap tersebut, karena makna cinta menurut ‘Aththar sebagai penglihatan batin, orang yang sudah memandang mengunakan cinta dia tidak lagi mengunakan rasio maupun empirisnya seakan semuanya tertutup, ada ujar-ujar “jika dalam cinta kau masih mengunakan kata ‘tetapi’ atau ‘karena’ berarti itu bukan cinta melainkan kalkulasi.
Dikisahkan juga pada nabi kita terdahulu, Nabi Ibrahim AS yang mengorbankan anaknya demi kecintaan kepada tuhanya. Dalam mantiq at-Thayr juga terdapat sebuah cerita tentang seorang Syekh bernama sa’an dan gadis cantik dari Yunani, yang dimana sang syekh dan gadis tersebut berbeda keyakinan tapi karena sang syekh sangat mencintainya tersebut berpindah agama dan ikut dengan gadis yang ia cintai, tapi tak lama kemudian para pengikut syekh itu berdoa supaya Syekh itu untuk kembali ke agamanya dan berkat doa itu syekh bertemu dengan nabi dalam mimpi dan menyuruh datang ke Makkah. Singkat cerita Syekh itu masuk islam dan juga karena cinta seorang gadis Yunani itu besar dia rindu dan menyusul Syekh dan juga memeluk islam yang disaksikan oleh seluruh orang disana.
Lembah ketiga disebut dengan lembah kearifan, yang menyebabkan seseorang selalu terjaga dari kesadaran Yang Satu. Seorang yang sudah mencapai maqom makrifat akan menerima nur yang sesuai dengan amalnya. Dengan cara bersembayang yang khusyuk, kemudian penyucian jiwa. Kearifan juga bisa rusak diakibatkan dangkalnya pikiran, kesedihan yang tak kunjung usai dan juga mata hatinya tertutup terhadap hakikat ketuhanan.
Lembah berikutnya yaitu lembah kebebasan, dilembah ini salik tidak lagi berbicara nafsu yang memenuhi jiwanya dan keinginan mencari sesuatu yang mudah didapat dengan ikhtiar biasa.
#Pesantren_Literasi
#Pesantren_Filsafat
✦ Tentang Penulis:

Pradita Afrianto adalah seorang penulis muda yang kini tengah menempuh pendidikan di Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen Malang. Selain aktif menulis dan mengembangkan karya literasi, ia juga mengabdikan diri sebagai Pengurus Badan Pengelola Harian (BPH) Pesantren, dengan amanah sebagai Sekretaris Pesantren.







[…] Baca Juga : Intimitas Bersama Tuhan […]
[…] Baca Juga : Intimitas Bersama Tuhan […]