Indahnya Mengenal Allah
Indahnya Mengenal Allah : Ayat dalam Al qur’an memiliki banyak sekali makna, sehingga untuk memahami salah satu artinya tidak bisa dengan satu disiplin ilmu sangat juga diperlukan kamus quran untuk mengetahui makna dasarnya.
Al quran memang kalam Allah yang qodim(terdahulu) dari sisi penurunnya kepada Nabi Muhammad kemudian dibahasakan oleh beliau sesuai dengan letak geografis ketika beliau diutus yaitu bahasa arab, tetapi dalam konteks sekarang kita bisa memaknai alquran seakan-akan turun kepada kita yang bisa kita terapkan dikehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Intimitas Bersama Tuhan
Dan untuk mencapai kepemahaman yang utuh, diperlukan akal untuk mentafsirkanya dan para ulama sudah merumuskan kaidah dalam tafsir. Ada juga syarat menjadi mufasir sangatlah tidak mudah. Karena dalam menafsirkan alquran harus menguasai berbagai ilmu seperti ulumul quran, ilmu balaqah, munasabah ayat dengan ayat, surat dengan surat, nuzulul quran, kamus alquran dan lain sebagainya.
Dari awal munculnya tafsir para ulama mengkatagorikan tafsir menjadi beberapa ranah, tafsir ummahat, tafsir mausuad, tafsir jami’ul qoul, dan tafsir komtemporer seperti imam sya’rawi.
Ambil salah satu mufasir kontemporer seperti imam sya’rawi, memaknai dalam memaknai ayat dalam alquran misalnya ayat kursi, beliau memiliki perspektif pribadi, imam sya’rawi dalam tafsirnya. Beliau berpendapat bahwa kata “Allah” adalah nama untuk sesuatu yang niscaya-ada(wajib al-wujud), sebab ketika melafalkan “Allah” maka pikiran kita akan menuju kepada esensi (dzat) sang niscaya-ada.
Untuk penggunaan nama “Allah” dan sebenarnya nama Allah tidak boleh digunakan selain-Nya, dengan demikian, Allah adalah nama bagi Sang Niscaya-Ada (wajib al wujud) yang memiliki sifat-sifat sempurna.
Dalam penggalan lafadz “lā ilāha” bermakna nafy(Negasi), sedangkan “illā huw” bermakna itsbat (Afirmasi). Sifat negasi itu takhliyah(menghilangkan sesuatu yang buruk), sedangkan Afirmasi itu tahliyah(menghiasi dengan hal yang baik).
Lihat Juga : Menulis, Berfikir dan Menafsir
Ada orang yg lupa akan penyembahan, sehingga mereka menyembah bintang dan patung. Apa yg mereka sembah itu benar?dan kami jawab tuhan mereka salah, yang benar hanya Allah dengan landasan kalimat La ilaha illallah.
Jika seseorang menolak kalimat tersebut ada dua kemungkinan yang akan dijawab, pertama hal itu bisa terjadi karena memang tidak ada tuhan selain dia, maka proposisinya benar.
Kedua seandainya tuhan lain ada yang mengaku tuhan dan berkata” aku adalah tuhan dan tidak ada tuhan selain diriku”,
Tuhan yang lain pasti menolak, tidak! aku juga tuhan dan seterusnya.
Dengan demikian kaliamat “la ilaha illallah” memiliki argumentasi yang tepat. Alasannya jika kalimat ini memiliki kebenaran dan keabsahan maka persoalannya akan selesai namun jika kalimat tersebut dianggap tidak benar, lantas dimanakah tuhan yang menciptakan alam, yang wajib disembah.
Oleh karena itu kalimat tersebut sudah tervalidasi kebenarannya. Maka Allah wajib disembah(al- ma’bud), dan hamba sebagai (abid) implementasi dari seorang hamba ya beribadah, dalam beribadah ada ketaatan, jadi seluruh ketaantan pasti terdapat larangan dan perintah. Dengan demikian perintah dan larangan memiliki kebaikan untuk hal tertentu.
Core of the core dari ibadah adalah menaati setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah yang terbaik ialah serius menjalani setiap aktivitas kehidupannya. Dengan demikian kita tidak sekedar menjalankan rukun islam, akan tetapi mendirikan bangunan secara bersamaan.
Allah adalah sebuah nama bagi sang Wajib al-Wujud. Nama yang dipilih dirinya sendiri dan diajarkan kepada kita. Nama Allah yang masih bersifat umum, yang dimana bisa di pakai oleh hambanya yaitu sifat qadir berkuasa, berbeda jika kita menggunakan kata al-Qadir(Maha Kuasa) yaitu Allah sendiri. Begitu juga dengan sifat-sifat Allah yang lain.
Pada redaksi illa bukanlah huruf istisna'(pengecualian). Kerena jika menggunakan kata pengecualian, seolah- olah menegasikan keberadaan tuhan, menganggap Allah bagian dari jenis tuhan yang ditiadakan. Jadi illa pada redaksi allahu la ilaha illah huwa itu bermakna illa ghair Allah(tidak ada tuhan selain)Allah Maha Esa, tidak ada sekutu baginya dan tidak ada yang pantas disembah dengan benar kecuali dia. Jadi kata illa bukan istisna’ tapi ghair, sehingga bermakna (tiada tuhan selain Allah).
Kemudian redaksi al-hayyu(Yang Maha Hidup) adalah sifat niscaya bagi tuhan. Sebab adanya sifat al-Qudrat(kuasa) setelah al-hayat(hidup). Tidak satupun sifat Allah mendahului (keberadaanya) kerena sifat Allah itu Qodim(terdahulu) tanpa memiliki permulaan.
Kata al hayu(yang maha hidup), para filosof berpendapat al hayu adalah sifat yang menjadikan subjek dapat mengetahui objek. Mereka juga menambahkan al hayu itu seperti kehidupan manusia sementara yang tidak sama dengan kita, tidak memiliki kehidupan.
Ditolak oleh syeh sya’rawi beliau berpendapat bahwa makna al-hayat memiliki pengertian yang luas dan cukup rinci. Sebenarnya mereka berpendapat al-hayat adalah sifat yang menjaga keberlangsungan sesuatu agar sesuai dengan fungsinya. Maka al-hayat adalah sifat untuk menjaga keberlangsungannya demi fungsi tertentu. Sebagaimana tumbuhan dan sejeninya. Bisa hidup sesuai dengan fungsinya.
Dengan demikian segala sesuatu memiliki kehidupan untuk menjaga keberlangsungan demi suatu fungsi tertentu. Pendapat seperti ini bisa kita jumpai ketika membaca al-quran dengan perenungan mendalam.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْ اَنْتُمْ بِا لْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُمْ بِا لْعُدْوَةِ الْقُصْوٰى وَ الرَّكْبُ اَسْفَلَ مِنْكُمْ ۗ وَلَوْ تَوَا عَدْتُّمْ لَا خْتَلَفْتُمْ فِى الْمِيْعٰدِ ۙ وَلٰـكِنْ لِّيَقْضِيَ اللّٰهُ اَمْرًا كَا نَ مَفْعُوْلًا ۙ لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْۢ بَيِّنَةٍ وَّيَحْيٰى مَنْ حَيَّ عَنْۢ بَيِّنَةٍ ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“(Yaitu) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 42)
Ada pertanyaan, apakah antonim dari al-hayat dalam al-Quran adalah al-halak(kehancuran). Dengan demikian antonim dari al-hayat adalah al-halak, beda dengan al-hayyu(sesuatu yang hidup), secara leksikal antonimnya yaitu al-halik(sesuatu yang hacur) jika ada antonimnya akan ada kontradiksi pada al-Quran (Qs. Al-qoshos:88). “segala sesuatu akan musnah, kecuali DzatNya.”
#Pesantren_Literasi
#Pesantren_Filsafat
✦ Tentang Penulis:

Pradita Afrianto adalah seorang penulis muda yang kini tengah menempuh pendidikan di Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen Malang. Selain aktif menulis dan mengembangkan karya literasi, ia juga mengabdikan diri sebagai Pengurus Badan Pengelola Harian (BPH) Pesantren, dengan amanah sebagai Sekretaris Pesantren.






