• Selamat Datang Santri/Santriwati di Situs Resmi Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Kamis, 30 Juli 2026

Kajian Kitab Ibnu Bajjah – Pertemuan ke 4 Masih, Butuh Sekolah? | Kritik untuk MBG Prabowo

Kajian Kitab Ibnu Bajjah – Pertemuan ke 4 Masih, Butuh Sekolah? | Kritik untuk MBG Prabowo
Bagikan

Oleh : Gus Ach. Dhofir Zuhry

(Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen Malang)

 

Bismillāh, alhamdulillāh, waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā sayyidinā Muḥammad rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Baik, kita melanjutkan Kajian Kitab Ibnu Bajjah – Pertemuan ke 4 Masih, Butuh Sekolah? | Kritik untuk MBG Prabowo.

Ibnu Bajjah mengatakan bahwa rumah tangga yang paripurna (tadbīr al-manzil) bukanlah tujuan akhir pada dirinya sendiri. Rumah tangga yang baik itu bukan demi rumah itu sendiri, bukan sekadar ada ruang tamu, dapur, perabot, dan sebagainya. Rumah tangga yang baik adalah rumah yang menopang tercapainya negara utama (al-madīnah al-fāḍilah). Jadi, rumah tangga hanyalah bagian dari tujuan yang lebih besar, yaitu membentuk masyarakat yang utama.

Baca Juga : Kajian Ibnu Bājjah 1, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia

Dengan kata lain, rumah tangga itu menjadi bagian dari diskursus kemanusiaan dan juga bagian dari tata kelola negara. Maka, pembahasan tentang rumah tangga adalah cabang dari pembahasan besar tentang manusia dan masyarakat.

Pendidikan Dimulai dari Rumah

Ibnu Bajjah menyinggung bahwa banyak orang menganggap pendidikan hanya ada di sekolah, kampus, pesantren, atau kursus. Padahal, pondasi pendidikan justru dimulai dari rumah.

Kalau di rumahnya rusak, karakternya tidak terbentuk, maka sekolah hanya melanjutkan keburukan itu. Maka, tadbīr al-manzil (pendidikan rumah tangga) itu sangat fundamental. Ibarat bangunan, pondasi tidak terlihat, tetapi justru yang paling menentukan.

Kritik Ibnu Bajjah: Sekolah, Pasar, Rumah Sakit

Ibnu Bajjah juga mengkritik bahwa sekolah hanya dibutuhkan bagi orang yang belum bisa belajar secara mandiri (mutawahhid). Seorang filsuf sejati, atau manusia utama, bisa belajar secara independen.

Lihat Juga : Jangan Pilih Pemimpin Populer – Filsafat Ibnu Bājjah – Tadbir Al-Mutawahhid

Rumah sakit dibutuhkan bagi masyarakat yang belum bisa hidup sehat. Hakim dibutuhkan bagi masyarakat yang belum bisa hidup adil. Pasar dibutuhkan bagi masyarakat yang belum bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

Maka, di negara utama (al-madīnah al-fāḍilah), ketika cinta dan kasih sayang sudah menjadi perekat, tidak ada konflik, maka tidak ada kebutuhan terhadap hakim. Ketika masyarakatnya sehat, maka tidak ada industri kesehatan.

Ibnu Bajjah bahkan menyebut rumah sakit sebagai ṣinā‘at at-ṭibb — industri kesehatan. Kalau sudah industri, maka coraknya kapitalistik: mencari keuntungan. Begitu pula dengan obat-obatan; farmasi adalah industri.

Sindiran MBG (Makan Bergizi Gratis)

Kritik ini bisa kita tarik ke konteks Indonesia sekarang. Program MBG (Makan Bergizi Gratis) justru menimbulkan masalah—5.000 orang keracunan karena distribusi buruk. Anggaran dipotong, kualitas makanan menurun, akhirnya nasi basi pun dibagi.

Lihat Juga : Kajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia

Ibnu Bajjah mengajarkan: yang dibutuhkan bukan sekadar makan gratis, tapi mata pencaharian. Negara utama tidak memberi makan gratis, melainkan memberdayakan rakyatnya agar mandiri.

Negara Utama dan Penyakit

Negara utama (al-madīnah al-fāḍilah) itu dicirikan oleh tidak adanya dokter dan hakim. Bukan berarti dokter dan hakim diharamkan, tapi karena masyarakatnya sudah sehat dan adil.

Penyakit di sana sedikit, paling banter sakit gigi. Tidak ada penyakit kronis akibat pola hidup tak sehat. Karena masyarakatnya hidup teratur, makan sehat, olahraga, dan tidak konsumsi hal berbahaya seperti junk food atau alkohol.

Badan yang sehat punya kemampuan self-healing. Penelitian modern juga membuktikan, tubuh yang sehat bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Jadi, negara utama itu masyarakatnya tidak tergantung pada obat dan industri kesehatan.

Penutup

Inilah inti dari pemikiran Ibnu Bajjah:

  • Rumah tangga adalah pondasi.

  • Sekolah hanya untuk mereka yang belum bisa belajar mandiri.

  • Rumah sakit hanya untuk mereka yang belum bisa hidup sehat.

  • Hakim hanya untuk mereka yang belum bisa berlaku adil.

Negara utama tidak butuh semua itu, karena masyarakatnya sudah adil, sehat, dan penuh cinta kasih.

Lihat Juga : Kajian Ibnu Bājjah 3, Negara Dimulai dari Rumah, Tadbir Al-Mutawahhid

Maka, mari kita berpikir: Indonesia ini mau ke arah mana? Apakah hanya sibuk membangun industri kesehatan, hukum, dan sekolah, ataukah menuju masyarakat yang sadar, mandiri, dan utama?

Wallāhu a‘lam.
Al-Fātiḥah…
Wassalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

SebelumnyaIndahnya Mengenal AllahSelanjutnyaFilsafat Ibnu Bājjah Pertemuan ke 5, Dosa Filsafat dan Nicomachean Ethics Aristoteles
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Jl. Aris Joyo Mustoko, RT./RW:/RW.05/02, Ngempit, Tegalsari, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163