Jangan Pilih Pemimpin Populer – Filsafat Ibnu Bājjah – Tadbir Al-Mutawahhid
Oleh : ADZ
Jangan Pilih Pemimpin Populer – Filsafat Ibnu Bājjah – Tadbir Al-Mutawahhid, Kali ini saya akan memperkenalkan salah satu tokoh agung, Bapak rasionalis pertama dalam Filsafat Islam yang muncul di Barat, tepatnya di Andalus (Spanyol). Beliau bernama Abu Bakar bin Yahya bin Asig, yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajah. Filsuf besar seperti Ibnu Rusyd bahkan masih menjadi muridnya.
Baca Juga : Kajian Ibnu Bājjah 1, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia
Ibnu Bajah menulis sebuah karya luar biasa berjudul Tadbirul Mutawahid. Buku ini membahas tentang tata kota atau cara berpolitik dari seorang yang soliter, penyendiri, seorang filsuf. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin yang layak dipilih bukan berarti harus terkenal, melainkan justru seorang yang “anti-mainstream”.
Makna Tadbir dan Mutawahid
“Tadbir” berarti tata kelola, sedangkan mutawahid secara harfiah berarti penyendiri atau soliter. Namun yang dimaksud Ibnu Bajah bukan sekadar penyendiri, melainkan seorang filsuf. Sosok ini mungkin tidak dikenal masyarakat luas, tetapi memiliki gagasan yang lahir dari kewarasan budi atau jiwa tercerahkan (enlightened soul).
Jika pribadi mutawahid ini hadir di tengah masyarakat, maka masyarakat tersebut tidak lagi membutuhkan sekolah, rumah sakit, atau bahkan pasar. Ia tidak mencari pengakuan semu dari masyarakat.
Contohnya, kata Ibnu Bajah:
“Kenapa saudara bersekolah? Kenapa Anda kuliah? Karena Anda tidak tahu cara belajar secara independen atau autodidak, maka Anda menyerahkan diri pada sekolah untuk diajari—yang sejatinya menipu. Kita adalah donatur tetap bagi kampus, rumah sakit, maupun sistem jual beli.”
Padahal, jika kita mampu belajar politik atau kesehatan secara otodidak, maka kita tidak butuh sekolah maupun rumah sakit. Karena masyarakat sudah tercerahkan, mereka bisa mandiri.
Pemimpin yang Mudabbir
Jika pribadi mutawahid ini telah menyatu dengan masyarakat, ia akan menjadi pemimpin yang ditokohkan. Menurut Ibnu Bajah, negara yang dipimpin oleh pemimpin seperti ini memiliki tiga kemungkinan:
-
Menjadi negara maju,
-
Bangkit dari keterpurukan, atau
-
Menjadi negara adidaya.
Semua itu akan terjadi jika negara tersebut dipimpin oleh seorang mudabbir—pemimpin rasional.
Melawan Sistem Usang
Ibnu Bajah menekankan bahwa rasionalitas bukan soal siapa, tetapi apa. Karena itu, beliau mengajak kita merenungkan cara kita bersekolah, mencari kesehatan, berdagang, maupun bernegara. Semua itu sering kali hanyalah cara-cara usang, karena kita membiarkan diri ditipu dan terjebak dalam sistem yang jauh dari rasionalitas.
Baca Juga : Kajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia
Maka Tadbirul Mutawahid adalah ilmu tata negara atau seni memimpin yang dicontohkan para filsuf, terutama Ibnu Bajah sendiri.
Riwayat Singkat Ibnu Bajah
Ibnu Bajah berasal dari Zaragoza, kemudian berpindah ke Sevilla, menyeberang ke Afrika Utara, hingga wafat di kota Fez, Maroko, dalam usia 43 tahun. Beliau wafat karena diracun (masmum). Meskipun hidup singkat, karya dan pengaruhnya besar dalam dunia Islam.
Ia bahkan mengkritik cara pandang Al-Ghazali. Jika Al-Ghazali menyatakan puncak pencapaian manusia adalah tasawuf, maka Ibnu Bajah menegaskan bahwa puncaknya adalah filsafat dan rasionalitas.
Inspirasi dari Ibnu Bajah
Menurut saya, pemikiran Ibnu Bajah menarik karena beliau adalah seorang “spasialis” yang berkelana melintasi banyak negeri, hampir seperti Ibnu Khaldun meski datang 200 tahun kemudian. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Bajah harus kita hidupkan kembali untuk menggugat cara kita bersekolah, berobat, berbudaya, dan berpolitik.
Dengan demikian, kita bisa menjadi pribadi-pribadi tercerahkan, jiwa-jiwa yang waras—the enlightened soul.
Salam waras. Semoga kita terinspirasi dari Ibnu Bajah.
Sumber : Video Youtube Ach Dhofir Zuhry Official







[…] Lihat Juga : Jangan Pilih Pemimpin Populer – Filsafat Ibnu Bājjah – Tadbir Al-Mutawahhid […]