Kajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia
Tadbir: Dari Ibnu Bajjah hingga Plato, Mengurai Tata Kelola Ilahi dan Manusia
Bismillahirrahmanirrahim.
Kita melanjutkan kajian tentang tadbīr—sebuah istilah yang bisa dimaknai sebagai “tata kelola”, baik pada tingkat ilahi maupun manusiawi. Pada pertemuan sebelumnya, kita sudah menyinggung biografi Ibnu Bajjah dan makna dasar tadbīr. Kini, mari kita gali lebih dalam bagaimana konsep ini diterapkan: mulai dari alam semesta, kehidupan manusia, hingga filsafat politik yang dibahas Plato dalam Politeia.
Baca Juga Menurut WIKIPEDIA : Kajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia
Apa Itu Tadbīr Ilāhī?
Tadbīr ilāhī berarti tata kelola Tuhan atas alam semesta. Namun, kata Ibnu Bajjah, hal itu terlalu agung untuk kita bahas. Fokusnya justru pada bagaimana manusia mentadbir kehidupannya: saat politik kacau, demokrasi carut-marut, ekonomi tak menentu, dan pendidikan berantakan—bagaimana cara manusia menata ulang?
Tuhan adalah Al-Mudabbir, pengelola yang mutlak. Kita hanya bisa meneladani sebagian kecil mekanismenya. Misalnya, ayat fal-mudabbirāti amrā menggambarkan para malaikat yang mengatur urusan atas perintah-Nya.
Alam, Karma, dan Sunnatullah
Alam bekerja dengan prinsip “daur ulang”: yang buruk bisa diproses menjadi baik. Dalam tradisi India kuno, dikenal konsep Dharma–Karma–Karma-phala. Dalam Islam, kita menyebutnya mayazra‘ yahṣud—apa yang ditanam, itulah yang dituai. Semua ini bagian dari sunnatullah: hukum Tuhan yang berlaku di alam.
Musyakkak, Tawāṭu’, dan Musytarak: Istilah Filosofis
Bahasan filsafat sering penuh istilah. Mari sederhanakan:
-
Musyakkak: satu kata dengan beberapa arti yang mirip (cenderung sama).
-
Tawāṭu’: satu kata dengan beberapa arti yang berbeda jauh.
-
Musytarak (equivocal): satu kata dengan banyak arti murni, tidak saling berhubungan.
Contoh: kata istawā dalam ayat ar-Raḥmān ‘alā al-‘Arsy istawā. Bukan berarti Tuhan duduk secara fisik, melainkan “menguasai”. Analogi awam sering salah memahami, padahal Tuhan suci dari ruang dan waktu.
Publik vs. Filsuf
Masyarakat umum (jumhūr) biasanya menganggap tadbīr sekadar “pengelolaan bertingkat”. Filsuf, sebaliknya, menyebutnya “ekivokal murni” (makna berbeda tapi sama-sama sah). Akhirnya, kata tadbīr bisa merujuk ke banyak hal: pengelolaan ilahi, kenabian, rumah tangga, hingga negara.
Lihat Juga : Kajian Filsafat Ibnu Bājjah 1
Tadbīr dalam Ilmu Politik
Jika disebut secara mutlak, tadbīr menunjuk ke tadbīr al-mudun: tata kelola negara. Inilah cabang filsafat politik. Kalau disebut muqayyad (terikat syarat), barulah muncul hukum benar–salah.
Bagi orang yang sedikit saja peduli pada filsafat politik, tadbīr langsung terasa relevan. Misalnya dalam konsep Trias Politika: eksekutif (pelaksana), legislatif (pembuat undang-undang), dan yudikatif (pengawas). Sistem ini jadi kerangka berpikir tata kelola negara modern.
Plato dan Politeia (Republik/Negara-Kota)
Ibnu Bajjah bicara tadbīr, Plato bicara Politeia. Meski beda tradisi, keduanya sama-sama mengulas tata kelola masyarakat dan negara.
-
Cephalus (Sefalus) berpendapat keadilan itu “berkata jujur & membayar utang”. Sokrates menguji: bagaimana kalau utang itu berupa senjata, dan pemiliknya sudah gila? Mengembalikannya justru berbahaya. Artinya, keadilan tidak cukup dipahami secara literal.
-
Thrasymachus (Trasimos) berargumen bahwa “keadilan ditentukan oleh yang kuat”. Sokrates menolak: jika begitu, kekuasaan berubah jadi tirani. Keadilan seharusnya dicintai karena nilainya sendiri, bukan sekadar karena aturan penguasa.
-
Cincin Gyges: mitos Yunani tentang cincin yang membuat pemakainya tak terlihat. Pertanyaannya: jika tak terlihat, apakah seseorang tetap berbuat adil? Ujian moral ini masih relevan hingga kini.
Plato menulis Politeia sekitar 360 SM—2.300 tahun lalu, tapi masih hidup sampai sekarang. Pertanyaannya sederhana tapi mendasar: mengapa manusia harus adil?
Dari Negara Adil ke Masyarakat Adil
Sebelum bicara negara adil, mulailah dari masyarakat adil. Orang Jawa menyebutnya kukkuruyuk (ayam berkokok bersama), orang Sunda kongkorongkong, intinya adalah harmoni.
Kapitalisme sering melihat manusia hanya sebagai sekrup kecil. Padahal, tanpa masyarakat kecil, kapitalisme tak bisa berdiri. Di sinilah peran rausan fikr: jiwa tercerahkan yang membangkitkan kesadaran masyarakatnya.
Tadbir sebagai Jalan Pencerahan
Ibnu Bajjah mengajarkan kita memahami tadbīr bukan sekadar urusan Tuhan, melainkan juga manusia: bagaimana menata rumah, masyarakat, hingga negara. Plato, lewat Politeia, menekankan pentingnya keadilan sebagai dasar politik.
Keduanya memberi pesan yang sama: tata kelola hidup adalah seni, dan keadilan adalah tujuannya. Pertanyaan Sokrates tentang “mengapa orang harus adil” tetap pantas kita renungkan, terutama dalam situasi sosial-politik hari ini.
Al-Fātiḥah.
Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.







[…] Baca Juga : Kajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia […]
[…] Lanjutk : Kajian Ibnu Bājjah 2 | Tadbir Al-Mutawahhid | Tata Kelola Ilahi dan Manusia […]