• Selamat Datang Santri/Santriwati di Situs Resmi Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Kamis, 30 Juli 2026

Menulis, Berfikir dan Menafsir

Menulis, Berfikir dan Menafsir
Bagikan

“Tak kenal maka tak sayang” ungkapan ini setidaknya memiliki banyak penafsiran yang kemudian membentuk pola pikir dan pola sikap kita tentang realitas, dengan adanya perkenalan kita bisa lebih dekat dengan objek yg ingin kita pahami, kemudian dapat juga diartikan sebagai kita menerjemahkan realitas yang super abstrak di mayapada ini, dalam acara orientasi santri baru di pesantren luhur Baitul hikmah panitia mendatangkan beberapa pemateri yang luar biasa, salah satunya yaitu Mr. Kholid beliau membahas masalah penulisan dan penerjemahan dari sudut pandang yang filosofis, beliau juga menjelaskan materinya secara epic dan sangat mudah dipahami oleh audiens.

Baca Juga : Orientasi Santri Baru Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen Malang Tahun 2025-2026

Beliau sempat menyinggung salah satu tokoh dalam materi yang beliau sampaikan yaitu Steven pinker, seorang dosen dari Harvard sibuk menulis sampai sekarang, dia juga seorang filsuf dan ahli bahasa.

Prof Steven pinker memberikan teori tentang “writing is thinking” dan “writing is speaking” apa maksud dari teori ini, Mr Kholis menjelaskan bahwasanya ketika kita menulis sebenarnya sejalan dengan proses berfikir, dan juga proses berbicara demikian.

Beliau memberikan Contoh ketika si A berbicara dengan si B ini adalah proses transformastif dalam istilah yang digunakan pak Ferdinand de sasceuser yaitu speaking circuit. Juga Beliau menambahkan “membaca adalah berbicara, sebelum kita berbicara ternyata ada prose(ungkapan ) yang dimana dijembatani oleh emphaty dari penulis dan pembaca sehingga bisa membentuk prose yang naratif dari pembicara atau penulis”.

Dalam menulis ada dua ranah, pertama berfikir, kedua berbicara. Apa itu menulis? Beliau menegaskan bahwa menulis adalah aktivitas berbicara yang kemudian dialihkan ke bentuk yang literatif. Penulis adalah pembicara sedangkan pembaca adalah pendengar, jadi sebagai penulis kita harus mengetahui siapa yang ingin membaca tulisan kita sehingga bisa dipahami oleh pembaca atau pendengar.

Dalam satu kesempatan saya menanyakan tentang makna dari ungkapan menerjemahkan, beliau menarasikan bahwa menerjemahkan ini mirip dengan mendengarkan.
Menerjemahkan bukan hanya sekedar teks tapi juga harus tahu konteks dan konsep yang utuh.

Lihat Juga : Kajian Filsafat Ibnu Bājjah 1

Beliau juga menjelaskan tentang speaking circuit yang kemudian membentuk tranformatif, ini ada dua yaitu verbal dan literal, verbal adalah berbicara langsung dan bisa di konfirmasi ulang tentang masalah yang sedang dibahas istilahnya real-time feedback, beda halnya dengan literal adalah sebentuk tulisan yang dimana untuk mendapatkan pemahaman tentang tulisan tersebut harus merujuk kepada otoritas tertentu seperti kita mambaca kitab, yang dimana kita sudah terlampau jauh dari pengarang maka kita harus menemukan seseorang yang otoritatif untuk bisa mendapatkan pemahaman.

 

✦ Tentang Penulis:

Dita

Pradita Afrianto adalah seorang penulis muda yang kini tengah menempuh pendidikan di Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen Malang. Selain aktif menulis dan mengembangkan karya literasi, ia juga mengabdikan diri sebagai Pengurus Badan Pengelola Harian (BPH) Pesantren, dengan amanah sebagai Sekretaris Pesantren.

 

SebelumnyaWacana Moderasi Beragama di Media SosialSelanjutnyaKajian Ibnu Bājjah 2, Tadbir Al-Mutawahhid , Tata Kelola Ilahi dan Manusia
2 Komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[…] Lihat Juga : Menulis, Berfikir dan Menafsir […]

Reply

[…] Baca Juga : Menulis, Berfikir dan Menafsir […]

Reply
Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Jl. Aris Joyo Mustoko, RT./RW:/RW.05/02, Ngempit, Tegalsari, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163