JAHILIYAH
oleh: Ach Dhofir Zuhry
Dalam hemat saya yang tidak terlalu hemat, setiap orang memiliki masa-masa jahiliyah dalam hidupnya, tanpa terkecuali saya, ya saya! Sering kali saya menyepelekan orang lain, terutama yang sok pintar dan merasa paling benar. Acap kali, tanpa ragu saya menantang meraka debat ilmiah, tapi bagaimanapun, saya tetap santri yang mau belajar dan senantiasa menghasrati kebenaran, terutama kebenaran ilmiah.
Debat ya, belajar ya, karena kebencian kepada mereka yang sok dan merasa paling berhak masuk surga. Namun demikian, saya sebisa mungkin tetap menjaga etika kepada para guru, orang tua dan tentu saja sesama manusia. Manusia akan tetap pandai selagi mau belajar, dan mulai bodoh jika berhenti belajar. Demikian sabda kanjeng Nabi Saw. Inilah yang saya sadari dan saya insyafi.
Dulu, sejak masih ugal dan liar berproses di Jakarta, kira-kira sejak tahun 2006, tepat satu pekan sekembalinya saya dari University of Queensland mengikuti pertukaran pelajar, di sebuah masjid di Jakarta Utara, seorang jamaah remaja yang bercelana bolong-bolong, seingat saya pakai anting dan beberapa aksesoris kalung dan semacam gelang, begitu selesai shalat ashar, langsung dikeroyok dan dihakimi oleh 5-6 pasukan cingkrang dengan memuntahkan sekian dalil salah sasaran dan sebagian salah baca ayat. Saya, sebagai pendekar jalanan pilih tanding, merasa tertantang untuk meladeni cecunguk-cecunguk itu, hehehe. Keren nggak?
Baca Juga : Hakikat Teknologi: Dari Eksistensi Manusia hingga Kritik Martin Heidegger
Itulah “panggung” debat jalanan pertama saya hingga pulang kampung ke Malang delapan tahun silam. Sejak itu, salah satu “pekerjaan” saya adalah berdebat dengan kaum fundamentalis, penganut Islam radikal, para salafi-wahabi (yang sebenarnya mutamaslif alias salaf palsu), kaum celana cingkrang (belum ada istilah bumi datar, kaum pentol korek, sumbu pendek, pemuja sempak bidadari, bani ngacengan, dlsb), aktivis HTI, dan sebagian dari partai sapi, tapi itu dulu. Maafkan ya, Cin… Micin…
Kini, saya sungguh-sungguh telah menyudahi “masa jahiliyah” itu dengan tidak lagi berdebat, bukan takut sih, tapi, gimana gitu… saya merasa belum ada lawan sepadan, ups! Belakangan saya lebih banyak mendengar dan menyimak. Karena bicara hanya mengulang yang saya tahu, sementara mendengar banyak mendapatkan pengetahuan dan kearifan baru. Saya bahagia!
Berdebat dengan mereka dari kampus ke kampus, dari komunitas ke komunitas, dari kafe ke kafe, dari warkop ke warteg, dari masjid ke surau, dan biasa debat kita ditonton banyak orang, bahkan pernah 1500an mahasiwa di Malang, Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Surabaya, Jombang, Sragen, Wonosobo, Pati, Bogor, Jakarta, Cianjur, Majalengka, Kendari, Buton, Makassar, Banjarmasin, Palangkaraya, dll.
Desember 2014 adalah debat saya terakhir dengan mereka-mereka yang anti Pancasila di salah satu kampus di Trenggalek. Para ilusionis khilafah itu sembari mewek mengutuk saya, apalagi kalau bukan tuduhan liberal dan kafir, apapun itu, saya bahagia melihat tangis aligator yang sangat menggelikan.
Bahkan pernah pada tahun 2011 saya berdebat dengan aktivis HTI di salah satu kampus swasta di Malang, dari pukul 13.00 sampai pukul 20.00 WIB yang diprakarsai oleh teman-teman BEM. Sembari menayangkan video klaim-klaim subyektif mereka perihal pesantren-pesantren yang mendukung khilafah, serta video penindasan kaum muslimin Palestina, Gaza, Kashmir, Rohingya, Afganistan, dll., mereka (biasa) membawa pemandu sorak, penggembira-penggembira culun hanya untuk tepuk tangan dan takbir, saya cukup membawa Kitab Kuning, kitab gundul (tanpa tanda baca) khas pesantren, saya sodorkan ke meraka, dan, sudah bisa ditebak, mereka tidak bisa baca! Bahkan, lebih sering jika acaranya di Malang dan sekitarnya, narasumber dan ustadz-ustadz mereka tidak datang, dengan alasan diare, datang bulan dan operasi plastik ke Korea. Kenapa? Karena mereka panci semua, eh banci semua!
Tahun 2010-11, Gusdurian di berbagai kota sering mengadakan dialog, 2011 panitianya rata-rata adalah IPNU-IPPNU, 2012-14 rata-rata PMII dan GMNI, kadang HMI, bahkan nyaris tiap pekan dan bulan selalu ada undangan debat. Praktis, saya adalah pria “panggilan” kala itu. Belum lagi panggilan menjinakkan gerombolan jamaah kompor di belasan desa di pesisir selatan kabupaten Malang.
Lihat Juga : HARI YANG BERAT
Jamaah kompor (sebutan untuk para pelancong musiman bergamis, berjidat biru dan bertanduk yang biasa membawa kompor dan memasak di masjid, menjemur pakaian di pagar masjid, berjenggot sekian helai tapi panjang sampai perut, menginap sekian minggu dari masjid ke masjid), bisanya mereka gedor-gedor rumah warga kalau subuh untuk mengingatkan shalat jamaah, lalu setiap habis shalat, mereka sampaikan kultum dan ceramah berapi-api layaknya Cicero, bahkan hampir menelan mikrofon. Mereka bermodal Al-Qur’an terjemah dan buku Fadha-il al-A’mal terjemahan pula, tapi dengan pedenya langsung berfatwa layaknya Imam Abu Hanifah.
Begitu saya sodorkan Kitab Kuning, mereka lagi-lagi mengelak dan menutupi kedunguan mereka dengan dalih kembali ke Qur’an-Hadits, klasik! Pendek kata, mereka adalah orang-orang yang digambarkan sayyidina Ali bin AbibTahlib ra.kw. sebagai orang yang al-qana’ah bi al-jahl (merasa cukup dan bangga dengan kebodohan). Merekalah para jahil murakkab, yakni orang-orang mabok agama yang kebebalannya bertingkat-tingkat, kedunguannya terstruktur dari ubun-ubun sampai telapak kaki, kebodohannya masif dan terkonsolidasi bahkan sampai ke mimpi.
Tahun 2008 di Jakarta Pusat, fase-fase akhir saya menempuh study di STF Driyarkara, debat dengan salafi dan HTI malah diselenggarakan oleh komunitas Katholik, bukan debat sih, dialog kebangsaan, tapi ujung-ujungnya juga debat, panas dan berkobar. Sembari memandang mata-mata liar di balik cadar (penasaran juga sih, macam apa rupa akhwat-akhwat itu), saya terus menghisap tembakau bersama kepulan logika-logika berkelas khas filsafat dan kaum sofis, saya mempermalukan mereka berikut sekian puluh pemandu soraknya yang sering kali salah takbir. Tapi, mereka memang tak punya malu, mereka sudah tutup telinga pada kebenaran dari luar kelompok mereka. Ini tentu anggapan keliru.
Kabar baiknya, saya tidak pernah kalah debat dengan mereka, bahkan menang telak dan menang banyak, meski sering kali dikeroyok oleh cecunguk congkak berwawasan dangkal dan para begundal pongah berakhlak banal. Tak tanggung-tanggung, biasanya saya minta agar debat divideokan, kalau perlu disiarkan radio dan televisi mereka, hampir selalu saya bikin psywar, bahkan saya bersumpah, kalau kalah debat dan kalah argumentasi ilmiah, saya bersedia keluar dari mazhab saya dan lantas ikut kelompok meraka. Nah, begitu saya minta MoU yang sama seandainya mereka kalah debat bagaimana, mereka lantas bilang bahwa agama bukan untuk diperdebatkan, padahal tuntunannya jelas-jelas ada dalam Al-Qur’an.
O ya, satu lagi pemirsa, saya—ehm ehm, sebagai ilmuwan tak berilmu—tidak pernah bicara yang saya belum tulis. Artinya, seingat saya, dan memang ini komitmen saya sampai mati, saya tidak akan pernah berbohong dalam hal ilmu, saya selalu jujur dalam urusan ilmu, tapi, dalam asmara dan ekonomi, saya kadang-kadang “terpaksa” berbohong demi maslahat dan atau karena kepepet. Anda juga, kan? Ah ah ah
Baca Juga : BARAKAH
Baik, maafkan saya yang dulu, inilah beberapa judul tulisan yang saya sarikan dari makalah-makalah saya selama menjadi “pawang” pasukan cingkrang sejak lebih dari satu dekade silam. Bebarapa klaim salafi-wahabi, HTI serta gerombolan anti Pancasila, para ilusionis khilafah serta bantahan saya pada meraka yang saya temukan di file komputer di antaranya: (1) orang tua kanjeng Nabi Saw adalah ahli neraka; (2) haramnya peringatan Maulid Nabi dan menganggapnya sebagai bid’ah sesat; (3) ziarah kubur itu syirik; (4) tasbih itu bid’ah (5) menyifati Allah SWT dengan ruang; (6) haramnya tawassul; (7) haram shalat di masjid yang terdapat kuburan dan perintah untuk membongkarnya; (8) ber-tabarruk [mengambil berkah] dari peninggalan Nabi dan orang shaleh termasuk syirik; (9) menolak taklid pada mazhab fikih yang empat; (10) syarat-syarat dan adab Mufti; (11) mengingkari dzikir, wirid dan hizib; (12) polemik cadar; (13) kurang ajar kepada ulama; (14) mengganti ideologi Negara via tipu-tipu 4-T [takfir, tabdi’, tasyrik dan tasykik] (15) Pancasila thaghut, nasionalisme sesat, demokrasi kafir, dll.
Jika jamaah fesbuk berkenan, saya akan posting secara berkala, siapa tahu ada di antara Anda yang butuh tambahan referensi untuk berdebat, hehehe.
Jangan lupa bahagia! Kopi mana kopi?!







