• Selamat Datang Santri/Santriwati di Situs Resmi Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Kamis, 30 Juli 2026

BARAKAH

BARAKAH
Bagikan

oleh: Ach Dhofir Zuhry

Adakah di antara kita yang kuat dan tahan banting bekerja membajak sawah selama 5 jam, bekerja di pabrik 8 jam, di rumah sakit 12 jam, bahkan berdagang selama 24 jam non stop serta menjadi nelayan dan berlayar selama sekian minggu dan bulan di tengah lautan, tetapi mengapa untuk salat zhuhur, tidak usah banyak-banyak, 4 rakaat saja kita tidak sempat? Para kuli bangunan, buruh pabrik, kuli panggul pelabuhan kuat angkat-angkat karung 50 kg, semen, beras, gula, terigu dan sebagainya, tapi mengapa untuk angkat sajadah dan tasbih tidak mampu? Itu artinya tidak ada lagi barakah sehat dan sempat.

Baca Juga : Makna Insan Kamil | Al-Hikam | Ibnu Athoillah As-Sakandari | Surat dari Alexandria

Pejabat korup, pialang politik, makelar kasus, penjual ayat suci, pengecer isu agama dan asongan air mata sosial, teroris, grosir berita palsu dan hoax murahan, tukang sunat, tukang mark up anggaran, tukang gunting kawan seiring, tukang jegal dan jagal, tukang poles dan semir, penjual aset-aset Negara, penjaja rasa malu, cecunguk, penjilat, begundal, bromocorah, lintah, ular dan sebangsanya adalah bukti dari orang-orang yang ilmunya tidak barakah.

secrets of divine love

secrets of divine love

Apapun itu, hidup yang barakah, keluarga dan rumah tangga yang barakah, jabatan dan rezeki yang barakah, pergaulan dan lingkungan yang barakah harus mulai digagas dan diselenggarakan sebaik mungkin. Caranya?

Tidak ada yang lebih sulit dari memulai. Anda tentu masih ingat dengn pepatah China klasik yang berujar bahwa perjalanan sejauh 1000 mil dimulai dengan 1 langkah. Betapa banyak gagasan-gagasan cemerlang dan pemikiran brilian yang sama sekali nihil tanpa tindakan nyata. Demikian memang, kesalahan terbesar umat manusia adalah berpikir tanpa bertindak dan atau sebaliknya bertindak tanpa (dimulai dengan) berpikir.

Dahulu, di bangku sekolah, guru hanya membuka pintu, saat ini di kehidupan nyata, kitalah yang harus memasuki sendiri. Ambil contoh, studi dan kelas-kelas filsafat yang (dianggap) membosankan dan kurang membumi, sehingga tidak begitu diminati dan diakrabi. Tetapi, filsafat sangat mungkin untuk diterima sejauh ia bisa ditolak. Demikianlah posisi dan eksistensi Kiai dan santri di tengah khalayak publik—setiap hal baru, tabu, ganjil dan aneh, nyaris selalu ditolak.

Lihat Juga : Evolusi Agama dan Peluang Hidup Damai

Langkah-langkah yang ditempuh oleh santri—sebagai penerus para Kiai—di tengah masyarakat, bahkan ditolak bukan oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri. Anda pun demikian, Kisanak. Apa sebab? Setiap memutuskan untuk melakukan hal ”baru”, diri Anda yang ”lama” pasti menolak. Padahal, idealnya, setiap orang seharusnya melakukan dua hal dengan sungguh-sungguh: (1) mengerjakan hal yang sangat ia sukai, dan (2) mengerjakan hal yang sangat ia benci. Tak jarang, Anda akan marah ketika dipaksa melakukan hal baru yang sangat menyentuh dasar ego Anda.

Sejatinya, bukan hanya sosok Kiai dan tokoh agama yang menjadi pemimpin dan dirigen bagi orkestrasi umat. Nabi Muhammad Saw mengingatkan bahwa masing-masing individu adalah pemimpin. Logika lugunya, tidak seorang pun akan mengikuti Anda jika Anda tidak tahu kemana harus melangkah. Nah, pertanyaannya: apakah kita harus melakukan hal-hal yang tidak mungkin, sementara hal-hal yang mungkin saja kadang malas kita lakukan?

Kisanak, salah satu penemuan terbesar umat manusia adalah bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya mereka sangka tidak bisa dilakukan. Takut gagal sama dengan membatasi kemampuan kita. Kegagalan terbesar adalah apabila kita tidak pernah mencoba. Kuncinya, biasakanlah untuk berpikir bahwa sukses hanya tinggal selangkah lagi dan pasti akan diraih.

Tapi, bukankah setiap langkah penuh resiko? Setiap tindakan tidak ada garansi berhasil? Tidak ada jaminan kesuksesan, memang, namun tidak mencobanya adalah jaminan kegagalan. Anda takkan tahu apa yang tak dapat Anda lakukan, sampai Anda mencobanya. Kegagalan hanya situasi tak terduga yang menuntut transformasi dalam makna positif.

Banyak orang yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan keberhasilan tapi sayangnya, mereka kemudian menyerah. Mengapa? Mereka tidak percaya barakah atau berkah. Barakah adalah nilai tambah dari secercah kebaikan yang pernah diperbuat. Secara teori, berkah dari Allah SWT itu bisa datang melalui sosok pribadi, Kiai dan guru misalnya; berkah juga bisa berasal dari tempat-tempat suci, tempat ibadah, makam Nabi dan para wali, Pesantren dan madrasah; dan, berkah juga bisa datang pada waktu-waktu tertentu, pada dua pertiga malam, pada bulan Ramadhan, pada bulan maulid, dan sebagainya.

Santri, Kiai (yang dulunya juga santri), dan para penganut ajaran Ahlus-Sunnah wal Jamaah sangat percaya pada barakah dan memang hidup mereka adalah demi meraih barakah itu. Nah, bagaimana dengan bayang-bayang kegagalan dalam berjuang dan mendidik masyarakat luas? Kiai mengajarkan para santri untuk memiliki tujuan jangka panjang agar mereka tidak frustrasi terhadap kegagalan jangka pendek.

Mungkin Anda Suka : Bandung Spirit and Hyper-Imperialism

Soal kendala? Bukan kendala dan rintangan yang menghalangi kita untuk sampai ke tujuan, tetapi mula-mula tanyakan kepada diri sendiri, jangan-jangan kita memang belum punya tujuan. Soal doa dan harapan yang belum terlaksana? Hanya ada satu bukti bahwa doa terkabul: tindakan!

Soal lain-lain? Ah, Anda bukan orang lain, Anda adalah diri Anda sendiri! Bagaimana dengan harapan? Yang mempertautkan manusia dengan cita-citanya adalah harapan manusia sendiri. Menghargai hidup, dengan demikian, adalah membangun sebuah proses untuk lebih dihargai. Inilah yang diajarkan para Kiai di Pesantren. Sinergi antara barakah para Guru dan Persantren serta tangisan doa orang tualah yang membuat para santri diterima dan lalu punya peranan dalam kehidupan nyata, bagi agama dan Indonesia.

SebelumnyaFilsafat Ibnu Bājjah 10 | Deontologi vs Teleologi | Tadbir Al-MutawahhidSelanjutnyaHARI YANG BERAT
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Komentar menunggu persetujuan admin

[…] Baca Juga : BARAKAH […]

Reply
Pesantren Luhur Baitul Hikmah
Jl. Aris Joyo Mustoko, RT./RW:/RW.05/02, Ngempit, Tegalsari, Kec. Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65163