Filsafat Ibnu Bajjah 7, Tadbīr al-Mutawaḥḥid, Negara, Filsuf, dan Tanaman Liar
oleh: Gus Ach Dhofir Zuhry
*Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Kepanjen – Malang
(Kajian Filsafat Islam: Ibnu Bājjah / Avempace)
Bismillāhi waṣ-ṣalātu wa-salāmu ‘alā Sayyidinā Muḥammad Rasūlillāh wa ālihi wa ṣaḥbihi wa subḥānaka.
Kita akan lanjutkan kajian Tadbīr al-Mutawaḥḥid karya Abdurrahman bin ‘Ashair Ibnu Bājjah, seorang filsuf besar Andalusia yang wafat pada tahun 1138 M.
Baca Juga : Filsafat Ibnu Bājjah Pertemuan ke 6, Dari Logika Aristoteles hingga Kecerdasan Buatan
Pada kesempatan ini, kita membahas halaman ketiga belas — melanjutkan pertemuan sebelumnya yang menyinggung konsep organon Aristoteles, fondasi logika dan metode berpikir sistematis yang bahkan menjadi dasar perumusan kecerdasan buatan (AI) dalam filsafat klasik.
Tentang Negara dan Nawābit (Tanaman Liar)
Ibnu Bājjah menjelaskan: dalam setiap negara selalu ada kelompok yang disebut nawābit — secara harfiah berarti rumput liar atau gulma.
Dalam konteks sosial, nawābit adalah orang-orang yang tumbuh dan berpikir di luar sistem negara; kaum filsuf, pemikir independen, atau individu yang memiliki pandangan berbeda dari arus utama.
“Negara ibarat lahan pertanian,” kata Gus Dhofir.
“Tukang kebunnya adalah penyelenggara negara. Ia menanam padi, jagung, atau gandum — tanaman yang diinginkan. Namun, di sela-sela tanaman itu, tumbuhlah rumput liar yang dianggap mengganggu.”
Ibnu Bājjah menegaskan:
“Negara utama (al-madīnah al-fāḍilah) tidak memiliki nawābit — sebab seluruh warganya tumbuh dalam tatanan yang baik dan rasional.
Tapi di negara yang tidak utama, nawābit justru adalah kaum bijak dan rasionalis yang dianggap pengganggu.”
Negara, Kekuasaan, dan Ironi Demokrasi
Dalam kajian ini, Gus Dhofir mengaitkan pemikiran Ibnu Bājjah dengan realitas politik kontemporer.
Beliau menyinggung bagaimana demokrasi di berbagai negara sering kali hanya menjadi topeng bagi oligarki, populisme, dan propaganda media.
Lihat Juga : Filsafat Ibnu Bājjah Pertemuan ke 5, Dosa Filsafat dan Nicomachean Ethics Aristoteles
“Trump menang dengan isu agama. Di Prancis ada Le Pen, di Jerman Lutz Bachmann, di Indonesia pun sama — agama dijadikan alat politik,”
ujar Gus Dhofir sambil mengutip Ken Wilber dan Nawal El Saadawi.
“Yang terjadi bukan demokrasi, tapi mobokrasi — kekuasaan massa tanpa nalar.”
Menurut beliau, apa yang disebut “tanaman liar” oleh negara justru adalah kaum cendekia yang berani berpikir berbeda.
Mereka bukan pengacau, melainkan outsider yang membawa pembaruan.
Kritik terhadap Penyeragaman dan Feodalisme
Gus Dhofir menyoroti budaya penyeragaman, baik dalam politik maupun pesantren.
“Di masa Orde Baru, semua parpol dianggap Golkar. Sekarang pun begitu — penyeragaman berpikir, sikap, dan tafsir.”
Beliau lalu membahas isu sosial yang muncul di media nasional, seperti pemberitaan Trans7 tentang pesantren.
Menurutnya, framing media sering men-generalisasi seluruh pesantren seolah-olah identik dengan feodalisme.
Baca Juga : Kajian Kitab Ibnu Bajjah – Pertemuan ke 4 Masih, Butuh Sekolah? | Kritik untuk MBG Prabowo
“Feodalisme bukan khas pesantren. Ia ada di politik, ekonomi, bahkan keluarga,”
jelas beliau.
“Mencium tangan guru bukan feodal, tapi bentuk tabarruk — mencari berkah dan menghormati ilmu.”
Budaya Pesantren sebagai Subkultur
Mengutip Gus Dur, Gus Dhofir menegaskan bahwa pesantren adalah subkultur — budaya unik yang berdiri di dalam, namun tidak terlepas dari budaya nasional.
“Di pesantren, mencium tangan guru atau duduk sopan di hadapan kiai adalah in-house culture, bukan penyembahan.”
Beliau mencontohkan Imam Ahmad bin Hambal yang rela diinjak kakinya Imam Syafi’i karena menghormati guru.
“Ini bukan feodalisme,” kata beliau, “tapi adab ilmiah — akhlak keilmuan.”
Tentang Tabarruk dan Keberkahan
Gus Dhofir menjelaskan konsep tabarruk (mengambil keberkahan) dengan pendekatan rasional.
“Kalau engkau datang ke dokter, yang kau cari bukan orangnya, tapi kesembuhan.
Dokter hanyalah medium — begitu pula kiai.
Barakah itu nyata: ada pada tempat, waktu, dan manusia tertentu yang menjadi wadah rahmat Allah.”
Filsuf sebagai Outsider
Ibnu Bājjah menggambarkan para mutawaḥḥid — manusia penyendiri — sebagai filsuf yang teralienasi, hidup di luar sistem sosial.
Mereka seperti tanaman liar yang tumbuh sendiri, tak diinginkan, tapi membawa keseimbangan ekosistem.
Baca Juga : Kajian Ibnu Bājjah 3, Negara Dimulai dari Rumah, Tadbir Al-Mutawahhid
“Semua penemu besar adalah outsider,” kata Gus Dhofir.
“Nabi Muhammad juga outsider di tengah aristokrasi Quraisy. Filsuf, penyair, bahkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina dan Newton — semuanya lahir di pinggiran kekuasaan.”
Negara Ideal dan Kesehatan Jiwa
Ibnu Bājjah menulis bahwa negara utama tidak lagi membutuhkan rumah sakit atau industri pendidikan, karena masyarakatnya telah sehat secara moral dan intelektual.
Dalam kerangka itu, mutawaḥḥid adalah sosok yang menjaga kesehatannya — baik jasmani maupun rohani — melalui tadbīr (pengelolaan diri).
Konsep ini kemudian memengaruhi teori medis Ibnu Sina dan Galen tentang preservasi kesehatan dan karantina diri.
Kajian ditutup dengan refleksi:
“Di negara yang buruk, nawābit adalah para filsuf — orang-orang dengan ide liar yang dibasmi.
Di negara yang baik, justru nawābit-lah para koruptor, makelar, dan pengacau.
Indonesia? Keduanya bercampur.”
Gus Dhofir menegaskan: belajar filsafat membuat kita berpikir jernih, menimbang realitas tanpa fanatisme, dan memahami bahwa rasionalitas dan spiritualitas tidak harus bertentangan.







[…] Baca Juga : Filsafat Ibnu Bajjah 7, Tadbīr al-Mutawaḥḥid, Negara, Filsuf, dan Tanaman Liar […]