Tadbīr al-Insān dan Teori Tindakan Manusia dalam Pemikiran Ibnu Bājjah
Oleh: Gus Dhofir Zuhry Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah,
Kajian setiap hari Jum’at Pagi
Ibnu Bājjah (Avempace) adalah seorang filsuf muslim dari Andalusia yang pemikirannya sangat berpengaruh dalam tradisi filsafat Islam, terutama dalam pembahasan tentang pembinaan diri (tadbīr al-insān). Baginya, manusia tidak hanya perlu memahami alam dan masyarakat, tetapi juga menata dirinya agar mencapai sa‘ādah, yakni kebahagiaan tertinggi.
Baca Juga : Filsafat Ibnu Bajjah 7, Tadbīr al-Mutawaḥḥid, Negara, Filsuf, dan Tanaman Liar
Kajian ini berpusat pada hubungan antara tadbīr (tata kelola diri) dengan af‘āl (tindakan manusia). Untuk memahami itu, Ibnu Bājjah mengawali dengan menjelaskan sumber tindakan manusia.
Lima Jenis Tadbīr (Tata Kelola) dalam Kehidupan
Ibnu Bājjah membagi tadbīr menjadi lima:
-
Tadbīr Ilāhī
Tata kelola langsung dari Allah atas seluruh ciptaan. -
Tadbīr al-‘Ālam
Tata kelola alam berdasarkan sunnatullah, hukum-hukum sebab-akibat. -
Tadbīr al-Mudun
Tata kelola negara atau pemerintahan. -
Tadbīr al-Manzil
Tata kelola rumah tangga dan keluarga. -
Tadbīr al-Insān
Tata kelola atas diri manusia: pembinaan akal, jiwa, dan tindakan.
Kajian ini berfokus pada tadbīr al-insān, karena di sanalah manusia menentukan arah hidupnya.
Teori Tindakan Manusia (Af‘āl al-Insān)
Menurut Ibnu Bājjah, tindakan manusia bersumber dari tiga hal:
1. Tindakan Jasmani (Fisikal / Hewani)
Tindakan alami yang tidak memerlukan kesadaran atau akal.
Contoh: jatuh karena gravitasi, berjalan, bergerak, reaksi tubuh.
Lihat Juga : Filsafat Ibnu Bājjah Pertemuan ke 6, Dari Logika Aristoteles hingga Kecerdasan Buatan
Tindakan ini tidak membutuhkan tadbīr.
2. Tindakan Tabi‘i (Naluri)
Tindakan berdasarkan kebutuhan biologis.
Contoh:
-
makan
-
minum
-
tidur
-
kawin / reproduksi
Binatang pun melakukannya.
Tindakan ini juga tidak memerlukan tadbīr akal.
3. Tindakan Aqli (Rasional)
Inilah tindakan yang lahir dari kesadaran, pertimbangan, dan kehendak.
Di sinilah manusia berbeda dari binatang.
Tindakan rasional inilah yang membutuhkan tadbīr, agar manusia tidak hidup tergiring oleh hawa nafsu, kebiasaan, atau tekanan sosial.
Manusia sebagai Makhluk Rasional
Aristoteles menyebut manusia sebagai:
Hayawān Nāṭiq – hewan yang berpikir.
Artinya:
-
Dalam makan, minum, tidur, manusia sama dengan binatang.
-
Dalam hukum fisika, manusia sama dengan benda alam.
-
Yang membedakan adalah akalnya.
Akal memungkinkan manusia:
-
mengatur dirinya
-
merancang tujuan hidup
-
membedakan baik dan buruk
-
menimbang sebab dan akibat
Tanpa pengelolaan akal, manusia turun derajatnya menjadi sekadar hewan yang berakal, bukan manusia yang beradab.
Al-Mutawaḥḥid: Manusia yang Menata Dirinya
Ibnu Bājjah menyebut manusia yang berhasil mengelola akalnya sebagai al-Mutawaḥḥid.
Baca Juga : Kajian Kitab Ibnu Bajjah – Pertemuan ke 4 Masih, Butuh Sekolah? | Kritik untuk MBG Prabowo
Al-Mutawaḥḥid bukan berarti mengasingkan diri dari masyarakat.
Ia tetap hidup di tengah manusia, tetapi:
-
tidak larut dalam keburukan sosial,
-
tidak terseret arus mayoritas,
-
tetap menjaga kejernihan akalnya.
Ia ibarat tanaman liar yang tumbuh subur di tanah yang rusak: tetap hidup, tetap berbuah, tetap bernilai.
Analogi Kedokteran: Mengobati Jiwa
Ibnu Bājjah menggunakan analogi dokter:
| Tubuh | Jiwa |
|---|---|
| Diobati dengan kedokteran fisik | Diobati dengan filsafat & ilmu |
| Sakitnya: demam, infeksi, luka | Sakitnya: gelisah, bingung, salah tujuan, tak punya arah |
| Tujuannya: kembali sehat | Tujuannya: mencapai sa‘ādah |
Maka filsuf adalah:
Dokter jiwa — yang menata pikiran dan tindakan agar manusia mencapai kematangan.
Negara Utama dan Kemandirian Akal
Ibnu Bājjah menyebut bahwa dalam negara paripurna (al-Madīnah al-Fāḍilah):
-
Jumlah dokter, hakim, dan penjara sangat sedikit.
Karena:
-
masyarakatnya sehat jiwa dan fisiknya,
-
hukum dijalankan oleh kesadaran, bukan paksaan.
Sebaliknya:
Banyak rumah sakit dan penjara adalah tanda tata kelola manusia yang bermasalah.
Dari pemikiran Ibnu Bājjah, dapat disimpulkan:
-
Tidak semua tindakan manusia perlu tadbīr.
Yang perlu diatur adalah tindakan yang bersumber dari akal. -
Tadbīr al-insān adalah seni mengelola akal dan kehendak.
Inilah jalan menuju kematangan dan kebahagiaan. -
Manusia yang mampu menata dirinya akan tetap teguh, bahkan ketika hidup di tengah masyarakat yang rusak.
-
Sa‘ādah (kebahagiaan sejati) hanya muncul ketika akal bekerja dan nafsu berada di bawah kendalinya.






